Kamis, 08 Desember 2011

TINDAKAN PREVENTIF DI SEKOLAH DASAR


PENDAHULUAN
Di sekolah, kita sering mendengar atau membaca kata konseling. Biasanya kita mendengar kata tersebut ebagai ekor dari bimbingan. Sebenarnya konseling hanya merupakan salah satu teknik membimbing atau teknik menolong. Kenyataan bahwa konseling selalu disebutkan secara eksplisit menunjukkan bahwa teknik konseling ini dipandang penting dalam bimbingan.
Secara luas, konseling adalah pertolongan atau bimbingan melewati wawancara atau wawancara yang bertujuan memberi pertolongan/bimbingan.
Wujud dan isi dari pertolongan bervariasi tergantung dari kebutuhan atau masalah yang dihadapi oleh siswa. Di antaranya pemecahan masalah, pengambilan keputusan penting, mengatasi konflik atau menghadapi tantangan hidup, mengubah tingkah laku, dan lain-lain.
Bimbingan konseling adalah salah satu unsur penting yang ada di sekolah. Bimbingan dan konseling (BK) merupakan salah satu bentuk dari komitmen sekolah untuk membantu siswa tidak dalam hal akademik saja, tetapi juga secara afektif maupun psikologis. Siswa yang tentu saja memiliki latar belakang berbeda satu sama lain memiliki permasalahan yang berbeda-beda pula. Permasalahan tersebut banyak juga yang menjadi penghambat seorang siswa dalam belajar di sekolah. Permasalahannya dapat berupa permasalahan diri sendiri, seperti kurang percaya diri, tidak menyukai pelajaran tertentu, membenci guru tertentu , dan sebagainya. Permasalahan juga dapat berasal dari lingkungan sekitar, seperti keadaan orangtua yang bercerai, kekerasan dalam rumah tangga, pengaruh negatif dari lingkungan tempat tinggal, dan lain-lain.
Perkembangan masyarakat dan pendidikan dewasa ini membawa kenyataan bahwa program bimbingan yang terorganisir di sekolah dasar dan sekolah menengah merupakan tindakan yang bersifat kontinyu. Bimbingan adalah satu bagian integral dalam keseluruhan program pendidikan yang mempunyai fungsi positif dan mengedepankan proses, bukan sekedar kekuatan korektif. Bimbingan diadakan sejak kontak pertama sang anak dengan sekolah, sampai anak dewasa dan mendapatkan tempatnya di masyarakat, atau melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Pendekatan bimbingan dapat berubah-ubah sesuai dengan perubahan kebutuhan anak dalam perkembangannya (Gunawan, 1992:178).

TINDAKAN PREVENTIF DI SEKOLAH DASAR
Ada beberapa catatan penting (Gunawan, 1992:179) mengapa bimbingan konseling di sekolah dasar merupakan program yang sangat penting dalam sebuah instansi pendidikan :
a)    Kepribadian anak masih sangat luwes dan belum menemukan banyak persoalan hidup yang dapat mengakar secara mendalam. Selain itu, kepribadian anak mudah terbentuk dan masih akan mengalami banyak perubahan dalam proses perkembangannya.
b)   Orangtua murid masih sering bekerjasama dan berhubungan dengan guru kelas. Orang tua masih aktif dalam mengikuti perkembangan pendidikan sang anak di sekolah dasar.
c)    Anak masih punya waktu terbuka untuk masa depannya, sehingga di sekolah dasar anak dapat belajar mengenali diri sendiri dan menemukan cara-cara pendekatan untuk menghadapi suatu persoalan dan cara memecahkannya di kemudian hari.
Ada sebuah kasus (Psikologi Plus, Januari 2009) dalam artikel berjudul Anak Korban Kekerasan Dalam Keluarga. Amy dan Jessica adalah dua kakak beradik yang lahir dan besar di Amerika mengaku menjadi korban ambisi ibu kandungnya sendiri. Mereka diharuskan mengikuti berbagai les di luar pendidikan formal agar berhasil mendulang prestasi. Namu yang terjadi adalah mereka menjadi ketakutan bertemu ibunya dan menyebut ibu mereka sakit jiwa.
Pada masa sekolah dasar, kepribadian anak dapat terbentuk sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangannya. Dan hal itu sanget luwes. Kasus di atas merupakan tindakan salah yang dilakukan orangtua kepada anaknya. Anak seharusnya tidak dipaksa untuk mengikuti suatu kegiatan di mana anak tersebut belum tentu menyukainya. Dampak yang ditimbulkan dapat berupa depresi sampai trauma. Disebutkan bahwa Amy dan Jessica ketakutan ketika bertemu ibunya. Hal ini juga merupakan sinyalemen bahwa Amy dan Jessica mengalami kekerasan dalam keluarga secara psikis. Mereka dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai dan mereka kemudian mengalami trauma.
Anak-anak yang memperoleh perlakuan kekerasan dari orangtua maupun kalangan dewasa mempunyai kecenderungan untuk bersifat agresif saat mereka dewasa nanti. Anak tersebut akan berlaku kejam terhadap orang lain seperti kepada anak-anaknya sendiri, atau bahkan kepada orangtuanya sendiri. Ketika seorang anak dididik dengan kekerasan, si anak akan terbiasa mengekspresikan dirinya dengan kekerasan pula. Bila tindakan kekerasan terhadap anak-anak dibiarkan terus dan tidak diberi intervensi psikologis, suatu saat akan muncul budaya kekerasan di tengah masyarakat yang ditimbulkan oleh anak-anak korban kekerasan.
Permasalahan anak seperti ini dapat mengganggu kegiatan belajarnya di sekolah. Jika bimbingan hanya memberikan pelayanan kepada anak yang mengalami problem pribadi yang serius saja, sekolah dasar tidak memerlukan program bimbingan yang terorganisir. Pandangan tentang BK yang tidak menekankan tindakan korektif belaka, melainkan menekankan program preventif yaitu menyediakan suasana atau situasi perkembangan yang baik, sehingga setiap anak dapat terdorong belajar dan mengembangkan pribadinya sebaik mungkin serta terhindar dari praktek-praktek yang merusak perkembangan anak. Sekolah menjadi sebuah tempat anak untuk dapat berkembang sesuai dengan perkembangan yang seharusnya. Sekolah juga menjadi patokan di mana seorang anak pada usia tertentu harus bisa menguasai kompetensi tertentu, bagaimana seharusnya seorang anak bersikap sesuai dengan usianya. Permasalahan pribadi anak, tentunya akan mempengaruhi kehidupannya di sekolah. Jika permasalahan pribadi anak memberikan pengaruh buruk, maka sekolah dapat menjadi suatu tameng untuk menghindari dampak-dampak negatif bagi sang anak.
Dalam sebuah artikel berjudul Psikososial : Mendidik Anak Secara Kontekstual (Psikologi Plus, Januari 2009) dituliskan bahwa anak diberi kesempatan untuk memilih dan menjalani hidupnya dan orangtua hanya bisa mengarahkan. Seringkali kita mendengar sebutan orangtua kolot yang mengatur segalanya berkaitan dengan anaknya sehingga mereka memiliki tekanan.
Dalam artikel tersebut juga dicontohkan sebuah film sebagai kasus, yang berjudul Ekskul (2006). Film ini menceritakan tentang seorang anak bernama Joshua yang selalu mendapat tekanan fisik dan emosi baik di lingkungan keluarga maupun pergaulannya di sekolah. Akibatnya dia menjadi depresi dan menyandera teman-temannya karena merasa dirinya hanya sebagai bahan lelucon saja. Ending film sangat tragis dimana Joshua bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri. Film ini ingin menunjukkan potret pendidikan atau pendampingan keluarga, sekolah, bahkan masyarakat.
Seringkali maksud orangtua ketika mencoba mengontrol segala perilaku anak untuk menghindarkan dari hal-hal negatif. Tetapi, kontrol itu seringkali terlalu berlebihan sehingga anak justru menjadi tidak mandiri bahkan menjadi pemalu karena saat melakukan sesuatu selalu saja diatur. Usia sekolah dasar adalah saat anak  dan semua perilakunya didominasi oleh perkembangan intelektual dan performance atas daya upayanya. Anak sangat mengharapkan pengakuan dari teman, guru, orangtua, atau siapapun. Apresiasi sangat dibutuhkan oleh mereka. Mendukung mereka melakukan sesuatu, membantu mereka menyelesaikan, membiarkan mereka menyelesaikan dengan cara mereka sendiri, dan membesarkan hati mereka atas segala upayanya merupakan dukungan yang kuat untuk pembentukan karakter mereka.
Untuk mewujudkan peran BK dalam perkembangan anak di sekolah dasar, Havighurst (1957) menyebutkan ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru BK maupun guru kelas :
a)    Mempelajari ketrampilan fisik anak. ketrampilan fisik berguna bagi kehidupan sang anak, terutama untuk berinteraksi dengan anak-anak lain saat bermain bersama. Peranan dan penghargaan teman sebayanya sangat ditentukan oleh perkembangan ketrampilan ini.
b)   Membangun sikap yang sehat terhadap diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh. Anak dibiasakan untuk menghargai, memelihara, menjaga kebersihan dan keamanan tubuhnya, serta memiliki sikap yang sehat terhadap tubuhnya sendiri.
c)    Belajar bergaul dengan teman sebayanya. Anak belajar menerima dan memberi di antara teman sebayanya. Anak mulai keluar dari lingkungan keluarganya, menempatkan dirinya di antara teman sebayanya, dan mulai memperoleh kepuasan dalam kehidupan sosial teman sebaya.
d)   Mencapai tingkat kebebasan pribadi. Anak dibimbing untuk mengembangkan diri menjadi pribadi yang mandiri, mampu membuat rencana, dan bertindak dari dirinya yang bebas dari orangtua atau orang dewasa lainnya.
e)    Mengembangkan sikap terhadap kelompok sosial dan lembaga dalam masyarakat. Sikap atau disposisi perasaan dipelajari anak melalui 3 cara:
1)      Meniru orang yang dilihat oleh anak sebagai orang yang berwibawa
2)      Pengumpulan dan kombinasi pengalaman-pengalaman yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan dalam situasi hidupnya
3)      Pengalaman emosional yang mendalam, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan dalam situasi hidup mereka.
Pada poin terakhir tersebut, pengalaman dari situasi hidup dan pengalaman emosional yang mendalam dari seorang anak memberikan pengaruh bagi kehidupan sosialnya kelak. Oleh karena itu bimbingan sangat diperlukan bagi anak dan hal tersebut dimulai oleh institusi pendidikan pada tingkat sekolah dasar.

KESIMPULAN
Bimbingan konseling adalah salah satu unsur penting yang ada di sekolah. Bimbingan dan konseling (BK) merupakan salah satu bentuk dari komitmen sekolah untuk membantu siswa tidak dalam hal akademik saja, tetapi juga secara afektif maupun psikologis. Perkembangan masyarakat dan pendidikan dewasa ini membawa kenyataan bahwa program bimbingan yang terorganisir di sekolah dasar dan sekolah menengah merupakan tindakan yang bersifat kontinyu. Bimbingan adalah satu bagian integral dalam keseluruhan program pendidikan yang mempunyai fungsi positif dan mengedepankan proses, bukan sekedar kekuatan korektif. Bimbingan diadakan sejak kontak pertama sang anak dengan sekolah, sampai anak dewasa dan mendapatkan tempatnya di masyarakat, atau melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
Pada masa sekolah dasar, kepribadian anak dapat terbentuk sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangannya. Dan hal itu sanget luwes. Anak-anak yang memperoleh perlakuan kekerasan dari orangtua maupun kalangan dewasa mempunyai kecenderungan untuk bersifat agresif saat mereka dewasa nanti. Anak tersebut akan berlaku kejam terhadap orang lain seperti kepada anak-anaknya sendiri, atau bahkan kepada orangtuanya sendiri. Ketika seorang anak dididik dengan kekerasan, si anak akan terbiasa mengekspresikan dirinya dengan kekerasan pula. Bila tindakan kekerasan terhadap anak-anak dibiarkan terus dan tidak diberi intervensi psikologis, suatu saat akan muncul budaya kekerasan di tengah masyarakat yang ditimbulkan oleh anak-anak korban kekerasan.
Seringkali maksud orangtua ketika mencoba mengontrol segala perilaku anak untuk menghindarkan dari hal-hal negatif. Tetapi, kontrol itu seringkali terlalu berlebihan sehingga anak justru menjadi tidak mandiri bahkan menjadi pemalu karena saat melakukan sesuatu selalu saja diatur. Usia sekolah dasar adalah saat anak  dan semua perilakunya didominasi oleh perkembangan intelektual dan performance atas daya upayanya. Anak sangat mengharapkan pengakuan dari teman, guru, orangtua, atau siapapun. Apresiasi sangat dibutuhkan oleh mereka.
Sekolah menjadi jembatan bagi anak yang mendapat sebuah nilai tertentu yang dirasa salah jika diterapkan secara umum. Sekolah memberikan bantuan bagi siswa dalam memperbaiki sikap mereka, dan secara khusus dengan bimbingan konseling, dapat menjamin proses belajar mereka di sekolah dengan nyaman.


DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Yusuf. 1992. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Gramedia: Jakarta
Loekmon, Lobby JT. 1991. Tantangan Konseling. Satya Wacana: Semarang
Hapsari, Hendrati. 2009. Anak Korban Kekerasan Dalam Keluarga. Majalah Psikologi Plus, Januari 2009 halaman 10-13.
Prasetyo, Aris Wahyu. 2009. Psikososial: Mendidik Anak Secara Kontekstual. Majalah Psikologi Plus, Januari 2009 halaman 58-64.
Artikel terlampir.

Selasa, 06 Desember 2011

I messed up today :(


Semua dimulai dari Senin sore yang serba bikin nggak pengen ngapa-ngapain. Yups, hari Senin nggak ada kuliah. Ada sih, tp jam 3, itupun si profesor bilang materi kuliah udah selesai. Yo wes.
Di sore hari yang cerah-cerah-kecu (karena tiba-tiba malemnya ujan deres banget) seperti biasa, gw ngetweet random. Inti tweet gw sih sederhana. Karena gw termasuk orang yang kesepian, termarjinalkan, dan difabel, gw jadiin twitter sebagai tempat ngoceh. Kenapa twitter? Karena facebook sudah tidak aman! Sekali update status aneh di facebook, efek dominonya adalah :
  • -        Gw dianggep freak di kelas
  • -        Jadi bahan stand-up comedy
  • -        Friend gw di fb udah mulai banyak, ada saudara pula. Malu sih update status nggak jelas kayak gitu.
  • -        Terakhir..... ya emang males aja di facebook. Apalagi subjek gw ada di twitter #ups


Nggak seperti yang gw harepin sih, tiba-tiba ada seseorang yang ngetweet gw :


BINGUUUNG!!!
Tapi gw tetep stay cool. Begitu baca tweet tadi, langsung nyamper hape dan gw sms dia.
Ternyata gara-gara tweet random gw T_T.
Emang sih beberapa tweet subjeknya dia (nah loh?).
Abis itu dia nyuruh gw (dia bilangnya “sugesti” sih,bukan nyuruh) buat baca gallery apaan gitu. Itu lho, web buat online learning bahasa Inggris. Sumpah! Menunya ribeeeeet banget! Ya tapi kalo udah niat+penasaran,  gw obrak-abrik aja semuanya.
Dan di situ gw nemuin sebuah tulisan yang,mmmmhhh..... seenggaknya bikin gw berpikir ulang mengenai tindakan gw selama ini ke dia. Semua respon gw ke dia yang...apa ya istilahnya.... menggampangkan dia untuk melakukan sesuatu yang ternyata bagi dia cukup sulit untuk dilakukan. Dan terlalu meremehkan beberapa memori yang ternyata buat gw lumayan berpengaruh (bukan “lumayan” sih, tapi “sangat”) di hidup gw setelah ketemu dia.
Salah gw juga sih. Udah tau dia orangnya peka (peka ama kepo sama nggak sih? :P) gw malah ngetweet sesuatu tentang dia.
Ada beberapa hal sih yang bikin gw susah. susah karena? Ya susah pokoknya. Ababil jaman sekarang sih lebih milih kata “galau” daripada “susah”.
  • -        Banyak kebiasaan dia yang sekarang mulai jadi kebiasaan gw. Kayak naik motor sambil dengerin musik. Asik juga lho. Tapi katanya dia udah nggak mau kayak gitu, takut kena razia polisi. So yesterday banget ya gw...
  • -        Kehidupan gw mulai jadi slow motion. Biasanya segala sesuatu yang gw lakuin pasti ngebut. Make sepatu ngebut. Mandi ngebut. Belajar ngebut. Berdoa ngebut. Boker ngebut (kalo yg ini relatif XD).
  • Suatu hari di siang yang panas, gw lihat dia mau pulang ke rumah. Dia naik motor. Dengan pelaaaaaan sekali dia mempersiapkan dirinya untuk naik motor (entah cuma perasaan gw atau nggak, pokoknya semua jadi kerasa slow motion. Kayaknya gw lebay deh). Dia pake jaket, headset, dan helm dengan pelan dan itu sudah terlalu cukup untuk membuat gw jadi lebih rileks dalam melakukan sesuatu #skip #skip #skip
  •   Yang terakhir: dia itu expert banget olahraga lari. Nih sekarang dia masih lari-lari di pikiran gw.


Beberapa hari ini gw punya soundtrack (bahasa Indonesianya : Lagu Wajib Personal) kalo lagi naik motor.

And in another life,  I would be your girl >>> “girl”nya diganti boy deh :P gw bkn homo
We keep all our promises, be us against the world
And in other life, I would make you stay
So I don’t have to say to you were the one that got away

Kata Raditya Dika sih, ngadepin cewek tu susah. Satu-satunya cara ya cuma pura-pura mati doang.
Gw sekarang juga pengen pura-pura mati. Abis itu idup lagi, then I would make her stay.
Ngarepnya sih gitu J
#finish