Jumat, 18 November 2011

Kita Ini Beruntung...

Seorang bocah cilik di perempatan jalan. Hari itu sedang gerimis. Aspal mulai terlihat basah. Bocah itu tetap di separator jalan, mengemis tanpa payung atau topi, atau apapun yang menutupi kepalanya. Hari itu, pertama kali saya melihat bocah itu, pada pukul 9 pagi. Saat itu matahari terik. Jika ada orang yang baru datang dari luar negeri dan berada di tempat dan waktu itu, dia tidak akan menyangka kalau saat itu adalah musim hujan.
Gerimis pukul 3 sore, sangat kontras dengan keadaan 6 jam yang lalu. Entah kenapa, saya ada sedikit keinginan untuk mencampuri urusan orang. Mencampuri urusan bocah itu. Sepulang dari kampus, sengaja saya lewat perempatan tempat sang bocah “bekerja”. Ketika hampir sampai perempatan, saya pinggirkan motor, saya tinggal dengan keadaan terkunci. Dengan berjalan kaki, saya menuju rumah kosong di pojokan perempatan. Kata orang di sana angker, tapi peduli amat. Saya diam di situ, menunggu selama 4 jam. Saya ditemani oleh nyamuk-nyamuk dan beberapa tikus yang lalu lalang di rumah kosong itu. Iseng mengamati bocah itu, dari balik tembok setinggi bahu, saya coba menghitung berapa kali dia mendapat uang dari mengemis. 4 jam menadah tangan, 13 kali si bocah mendapat uang. Saya perkirakan, dia cuma mendapat tidak lebih dari Rp 12.000,-. Badannya setengah basah, di bawah pohon si bocah sempat menghitung penghasilannya. Kemudian dia beranjak dari perempatan, pulang. Saya ikuti dia dari jarak sekitar 50 meter. Dari perempatan dia menuju ke sebuah gang. Masuk agak jauh ke gang, si bocah menuju ke sebuah masjid (atau mushola?). Anggapan saya, dia hendak sholat. Ternyata dia menuju tempat wudhu, mengambil botol air mineral dari tas kecilnya. Botol itu diisi dengan air keran. Lalu dia beranjak dari masjid tersebut, dan berjalan keluar dari gang. Saya sempat kaget saat dia melewati rute yang sama saat dia menuju masjid. Saya pura-pura duduk di angkringan yang belum digelar, sambil memainkan handphone. Bocah itu lewat di depan saya. Untung saja bocah itu tidak tahu kalau saya mengikuti dia. Di perjalanan, si bocah membuka botol air mineral yang telah diisinya dengan air keran. Dia meminumnya. Orang lain mungkin beranggapan kalau dia minum air mineral, atau paling tidak air masak yang diisinya sendiri di rumah. Tapi saya tahu kalau dia minum air keran dari masjid.
Si bocah kemudian berjalan menuju jalan raya, melewati jembatan, lalu turun ke bawah, ke lereng di pinggir sungai. Ternyata di bawah ada beberapa gubuk (benar-benar gubuk). Saya kira tempat itu adalah pemukiman liar, dilihat dari akses jalannya yang sama sekali tidak memenuhi syarat untuk pemukiman pada umumnya. Jalan ke bawah hanya berupa undakan kecil selebar kurang dari satu meter. Gubuk-gubuk di bawah hanya berbentuk seperti tempat “jaga sawah”, hanya bentuknya lebih besar dan lebih berwarna-warni karena terbuat dari bekas spanduk iklan. Banyak sampah-sampah yang sudah ditata rapi. kelihatannya penghuni di situ adalah para pemulung. Dari atas, saya melihat anak itu sudah turun ke bawah. Saya penasaran, di mana kira-kira rumah bocah itu. Namun dari raut wajahnya, si bocah seperti enggan untuk masuk lebih dalam lagi ke pemukiman. Tidak berapa lama, seorang setengah baya menghampiri si bocah. Entah itu ayahnya, entah keluarganya. Saya tidak bisa mendengar orang tersebut bicara apa dengan si bocah, tapi kemudian si bocah membuka tas kecilnya yang lusuh, mengeluarkan uang hasil mengemisnya tadi. Orang setengah baya itu mengambil semua uang si bocah.
Orang itu pergi setelah mendapat uang. Si bocah, dengan wajah agak kecewa (dan takut, saya benar-benar bisa melihat hal itu dari warna mukanya) berlalu dan menuju ke arah kanan, masuk ke pemukiman lebih dalam. Saya terpaksa turun ke bawah mengikuti si bocah. Si bocah berhenti di salah satu gubuk. Dia masuk ke dalam. Saat itu juga saya mendengar ocehan wanita dari dalam gubuk. Si bocah sedang diomeli oleh seorang wanita. Inti dari omelannya adalah komentar buruk terhadap si bocah, si bocah dikatai tidak berguna, dan lain-lain. Si bocah keluar dari dalam gubuk, dan duduk. Dia menenteng beberapa buah buku. Dia merapal doa, kemudian membaca salah satu buku. Sumpah, mukanya serius dan sangat bersemangat. Berbeda sekali dengan warna mukanya saat dia mengemis.
Buku yang lusuh sekali dengan sampul dominan biru, dengan beberapa ornamen mozaik warna warni. Dari jauh, dengan jarak 2 gubuk dari si bocah, saya memicingkan mata sembari penasaran apa kira-kira yang tengah dibacanya. Saya kenal buku itu. Makin lama saya amati, saya yakin kalau saya benar-benar tahu itu buku apa. Di sampulnya tertulis : PELAJARAN MATEMATIKA UNTUK SD KELAS V. Saya tahu buku itu, teman saya yang di program studi PGSD pernah menunjukkan buku itu pada saya.
Saya makin penasaran lagi. Darimana si bocah mendapatkan buku itu? Apa si bocah punya uang? Apakah orangtuanya (atau siapapun di pemukiman itu) ada yang membelikan dia buku? Buku itu lumayan baru, dan harganya masih mahal. Apalagi si bocah sejak pagi sampai sore berada di perempatan, bekerja. Kesimpulan yang saya ambil adalah si bocah tidak bersekolah.
Dia membalik halaman bukunya, sambil membuat coretan di tanah. Coretan-coretan tentang trapesium, dengan hitungannya.
Mata saya panas. Dada saya juga panas.
Di sampingnya saya juga melihat ada buku lain. sepertinya itu buku mata pelajaran IPS. Tertulis di sampulnya.
Saya kemudian memilih pulang. Saya diam, seperti habis ditegur. Saya seperti melakukan kesalahan besar.

Jika saja bocah itu diberi minum susu, atau setidaknya minum dengan air yang lebih bersih dari keran.
Jika saja bocah itu diberi uang saku dan dibiayai.
Jika saja bocah itu diberi buku baru, diberi meja dan kursi untuk belajar, disekolahkan, diberi buku tulis dan pena, diberi kalkulator untuk menghitung.
Mungkin suatu saat dia bisa menjadi presiden. Mungkin dia bisa menjadi profesor. Mungkin dia bisa menjadi seorang teknisi handal seperti Pak Habibi. Mungkin dia bisa melebihi geloranya Pak Karno. Mungkin dia bisa lebih berkuasa dari Pak Harto. Mungkin dia bisa menjadi seorang yang hebat.

Pertanyaan besarnya : Adilkah ini? Adilkah kita? Masih adakah kata santai di kamus kita? Pantaskah kita bersenang-senang?

Saya Marwan. Saya menyaksikan semua itu dengan mata saya sendiri, menguntit dengan keinginan saya sendiri, mengikuti dengan kaki saya sendiri, merasakan dengan hati saya sendiri, dan menutup mata dengan tangan saya sendiri. Saya merasa dipecundangi.