Kamis, 24 Maret 2011

Memenuhi Standar-standar Melalui Strategi-strategi Pengajaran yang Berpusat pada Siswa


Pengajaran yang Berpusat Pada Siswa
Pengajaran yang berpusat pada siswa menggambarkan strategi-strategi pengajaran di mana guru lebih memfasilitasi daripada mengajar langsung (McCombs & Miller, 2007).
Tujuan-tujuan yang dapat dicapai dengan efektif dalam strategstrategi pengajaran yang berpusat pada siswa mencakup hal-hal berikut ini :
·         Pengembangan proses-proses skill berkomunikasi
·         Pengembangan pemahaman yang mendalam tentang topik
·         Pengembangan skill-skill penelitian dan pemecahan masalah

Pengajaran yang berpusat pada siswa menyertakan karakteristik-karakteristik berikut ini :
·      Siswa-siswi merada di dalam pusat proses pembelajaran; sedangkan guru mendorong mereka untuk bertanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri.
·      Guru membimbing pembelajaran siswa dan mengintervensi hanya jika diperlukan untuk mencegah mereka salah jalan atau mengembangkan konsepsi yang salah.
·      Guru menekankan pemahaman yang mendalam tentang konten dan proses-proses yang terlibat di dalamnya.

Guru terkadang salah menafsirkan pengajaran yang berpusat pada siswa. Beberapa kesalahan penafsiran adalah sebagai berikut :
·      Tujuan-tujuan yang jelas dan persiapan yang cermat kurang penting dalam pengajaran yang berpusat pada siswa daripada dalam pendekatan-pendekatan yang berpusat pada guru.
·      Jika siswa dilibatkan dalam diskusi dan bentuk-bentuk interaksi yang lain, pembelajaran akan terjadi secara otomatis.
·      Guru memainka peran yang kurang penting dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa daripada dalam pengajaran tradisional.

Strategi-strategi Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan istilah umum untuk sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja sama kelompok dan interaksi antarsiswa. Persamaan antar semua strategi ini adalah dalam hal bahwa para siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil untuk mencapai tujuan-tujuan bersama. Strategi-strategi pembelajaran kooperatif secara khusus dirancang untuk mendorong siswa dalam bekerja sama dan saling membantu satu sama lain untuk mempelajari tujuan-tujuan umumnya.
Ada 5 elemen dasar yang menjadi landasan dari semua strategi pembelajaran kooperatif yang efektif :
·      Interaksi sosial diterapkan untuk memfasilitasi pembelajaran
·      Siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok untuk menyelesaikan tugas-tugas
·      Sasaran-sasaran pembelajaran melahirkan tujuan-tujuan kelompok yang kemudian mengarahkan aktivitas pembelajaran dalam kelompok
·      Guru bertanggung jawab atas pembelajaran siswa secara individu
·      Siswa mengembangkan ketrampilan-kerampilan kerja sama dan juga sasaran-sasaran konten pembelajaran

Guru yang menerapkan strategi pembelajaran kooperatif dalam kelasnya mengidentifikasi wilayah-wilayah yang berpotensi memunculkan masalah seperti berikut ini :
·      Perilaku-prilaku yang off-task (melalaikan tugas)
·      Gagal untuk mencapai kebersamaan
·      Berperilaku buruk
·      Pemanfaatan waktu kelompok yang tidak efektif

Jenis-jenis Pembelajaran Kooperatif
Ada beberapa jenis pembelajaran kooperatif yang dibedakan dalam hal tujuan-tujuan dan prosedur-prosedur yang ada :
1.    Kerja kelompok
Merupakan salah satu strategi pengajaran yang mengharuskan siswa untuk bekerja sama. Strategi ini biasanya digunakan sebagai tambahan atas strategi-strategi lain, seperti strategi pengajaran langsung yang berpusat pada guru atau diskusi-ceramah. Kerja kelompok dapat digunakan untuk mengajar tujuan-tujuan tingkat tinggi dan tingkat rendah.
Kerja kelompok juga bisa digunakan untuk merangsang pemikiran siswa dalam bidang konten yang sama, seperti berikut ini :
·         Mengembangkan skill-skill pemecahan masalah siswa
·         Membantu siswa memahami kecenderungan-kecenderungan dan hubungan sebab-akibat dalam studi-studi sosial
·         Mengajari siswa bagaimana merancang eksperimen-eksperimen dalam sains
·         Memberika umpan balik terhadap catatan-catatan tertulis
Ada 4 faktor yang berpengaruh pada efektivitas strategi ini :
·         Strategi ini membangkitkan jawaban-jawaban dari setiap siswa dalam kelas dan mendorong pembelajaran aktif
·         Setiap anggota pasangan diharapkan untuk berpartisipasi, strategi ini dapat mengurangi anggota yang pasif dalam kelompok
·         Strategi ini relatif mudah untuk direncanakan dan diterapkan
·         Strategi ini bisa membantu siswa membuat pengalihan pada strategi yang lain, strategi-strategi pembelajaran kooperatif yang lebih kompleks
Saat siswa mengerjakan, guru mengawasi proses tersebut dan mendorong siswa untuk mendiskusikan alasan-alasan mengapa jawaban-jawaban tersebut benar. Selain itu guru harus menyediakan waktu cadangan pada akhir aktivitas agar seluruh siswa berdiskusi tentang semua hal yang tidak menjadi kesepakatan umum antarsiswa atau yang masih membingungkan mereka.

2.    Student Teams Achievement Division (STAD)
Dalam STAD, siswa-siswa yang berkemampuan tinggi dan siswa-siswa yang berkemampuan rendah dipasangkan dalam satu tim yang rata-rata terdiri dari lima atau enam orang, dan skor-skor tim didasarkan pada sejauh mana siswa mampu meningkatkan skor mereka dalam tes-tes keterampilan.
Langkah-langkah yang dilibatkan dalam menerapkan STAD adalah sebagai berikut :
a)    Mem-pretest siswa
b)   Me-ranking siswa dari yang paling atas hingga paling bawah
c)    Membagi siswa sehingga setiap kelompok memiliki keberagaman
d)   Menyajian konten
e)    Membagi lembar kerja-lembar kerja yang telah dipersiapkan, yang fokus pada konten yang akan dipelajari
f)    Memeriksa kelompok-kelompok untuk kemajuan pembelajaran
g)   Mengelola kuis-kuis individual untuk setiap siswa
h)   Memberikan skor kelompok berdasarkan skor yang diperoleh perorangan

3.    Investigasi kelompok
Investigasi kelompok menempatkan siswa dalam tiga sampai enam kelompok untuk menyelidiki atau menyelesaikan beberapa masalah umum. Siswa bertanggung jawab dalam mengembangkan tujuan-tujuan kelompok yang spesifik, menilai tanggung jawab perseorangan, dan berusaha menyelesaikan proyek yang telah ditugaskan. Kerja sama dipelihara melalui tujuan-tujuan umum kelompok, dan skor atau nilai diperuntukkan seluruh proyek.
Terdapat 6 langkah dalam investigasi kelompok :
1)      Pemilihan topik
Siswa memilih topik untuk diselidiki dalam satu bidang umum
2)      Perencanaan kooperatif
Siswa dengan bantuan guru merencanakan bagaimana mengumpulkan daa dan aktivitas pembelajaran lain
3)      Penerapan
Siswa menerapkan rencana yang mereka buat, dengan menggunakan strategi-strategi pembelajaran dan sumber-sumber data yang berbeda
4)      Analisis dan sintetis
Siswa menganalisis dan mengelola informasi yang telah mereka kumpulkan untuk dipresentasikan pada kelompok lain
5)      Penyajian hasil akhir
Siswa membagi dan mendiskusikan informasi yang telah mereka kumpulkan
6)      Evaluasi
Siswa membandingkan penemuan-penemuan dan perspektif-perspektif, dan mendiskusikan persamaan maupun perbedaannya.

4.    Jigsaw
Merupakan salah satu jenis strategi pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelidiki suatu topik umum (Aronson, Wilson,& Akert, 2005). Topik-topik ini biasanya memiliki skop yang cukup luas yang setiap anggota dalam satu tim ditugaskan untuk mengerjakan subjek-subjek tertentu dalam topik tersebut. Setiap individu kemudian bertanggung jawab untuk meneliti dan mempelajari bidang spesialisasi mereka dan mangajarkan topik-topik ini kepada anggota-anggota lain. Semua siswa diharapkan mempelajari semua informasi topik tersebut, dan kuis yang komprehensif bisa digunakan untuk menambah laporan-laporan kelompok untuk dijadikan ukuran penilaian.

Penelitian mendukung strategi ini. Siswa-siswa yang bekerja dalam kelompok-kelompok kooperatif meningkatkan skill-skill sosial, mengembangkan sikap menerima atas teman-temannya yang memiliki keunikan-keunikan, menciptakan persahabatan dan sikap positif dengan others yang berbeda dalam hal prestasi, etnisitas, dan gender (Vaughn et al., 2006).
Pengaruh-pengaruh positif pembelajaran kooperatif terhadap sikap-sikap rasial dan interpersonal berakar dari 3 faktor :
1)        Kesempatan bagi jenis siswa yang berbeda-beda untuk dapat bekerja bersama dalam mengerjakan proyek-proyek
2)        Status-status yang setara untuk para partisipan atau peserta (kelompok)
3)        Kesempatan bagi jenis siswa yang berbeda-beda untuk dapat saling belajar satu sama lain sebagai individu-individu (Vaughn et al., 2006)

Senin, 21 Maret 2011

Aliran Linguistik : Zaman Pertengahan

PENDAHULUAN
Abad Pertengahan adalah periode sejarah di Eropa sejak bersatunya kembali daerah bekas kekuasaan Kekaisaran Romawi Barat di bawah prakarsa raja Charlemagne pada abad ke-5 hingga munculnya monarki-monarki nasional, dimulainya penjelajahan samudra, kebangkitan humanisme, serta Reformasi Protestan dengan dimulainya Renaissance pada tahun 1517

PEMBAHASAN
Ciri yang dominan dari zaman pertengahan di Eropa ialah peranan utama yang dipegang oleh sistem pendidikan latin. Bahasa Latin memperoleh tempat terhormat dalam analisa. Bahasa Latin merupakan bahasa gereja, bahasa diplomasi, bahasa ilmu pengatahuan dan sebagainya. Pada masa pertengahan ini, perhatian lebih banyak ditujukan kepada bahasa Romawi meskipun Kerajaan Romawi telah lenyap. Tujuan ahli tata bahasa pada waktu itu ialah mencari persesuaian antara peristiwa-peritiwa bahasa dan prinsip teori yang telah disusun lebih dahulu. Dari zaman pertengahan ini perkembangan linguistik yang utama adalah timbulnya kaum modiste dan tata bahasa spekulatif. 
·         KAUM MODISTAE
Dalam kajian bahasa pada abad ke-13, ada  sekelompok sarjana yakni kaum modistae. Kata ini berasal dari kata modus, mode atau mood atau cara, sesuatu itu ada. Ada tiga modus atau yang disampaikan para sarjana ini , yakni:
1.      modi essensi adalah setiap benda mempunyai beberapa ciri yang perlu dibedakan.
2.      modi inteligendi dibagi menjadi modi inteligendi aktifi dan modi inteligendi pasifi. modi inteligendi aktivi adalah pikiran manusia dapat menangkap pengertian yang ada dalam konsep secara aktif. Sedangkan modi inteligendi pasifi adalah pikiran manusia yang dapat menangkap pengertian yang ada di dalam konsep secara pasif.
3.       modi significandi dibagi menjadi dua yakni modi significandi akitivi dan modi significandi pasifi. modi significandi aktivi adalah pengalihan bahasa dalam  pikiran dalam tanda bunyi bahasa. Modi ini dibagi atas bentuk kata (dictiones) dan bagian ujaran (partes orationis). Modi significandi inilah yang merupakan kunci yang merupakan kunci sistem bahasa menurut konsep kaum modistae. sedangkan modi signifikasi pasifi.......
secara diagramatis, dapat disusun dasar pikiran di atas sebagai berikut:
modi essendi
modi intellegendi activi                                                          modi intellegendi passivi
modi significandi activi                                                          modi significandi passivi
kaum modistae ini membawa pemikiran filsafat ke dalam kajian bahasa.hasilnya, kajian bahasa didasarkan pada logika atau penalaran. Mereka percaya bahwa bahasa itu universal. Dari ketiga modus yang ada, yang paling ditekanakn oleh kaum modistae adalah modi intelegendi karena bahasa menganut prinsip  logika dan bahasa tunduk pada aturan aturan (rulu-governed).
·         TATA BAHASA SPEKULATIVA
Tata bahasa spekulativa adalah hasil daripada integerasi deskripsi gramatical, bahasa latin seperti yang dirumuskan oleh priscia dan donatus ke dalam sistem filsafat skolastika. Tugas dari tata bahasa spekulativa adalah menemukan prinsip prinsip tempat kata kata sebagai sebuah tanda dihubungkan pada pihak dengan intelek manusia kepada pihak lain dihubungakan kepada benda yang ditunjuk atau di wakilinya(referens).
Menurut tata bahasa spekulativa, kata tidak secaralangsung mewakili alam dai benda yang ditunjukkan. Kata hanya mewakili hal adana benda itu dalam berbagai cara, modus,substansi, aksi, kualitas, dan sebagainya. Hal ini terjadi dengan kepada partes orationis.
Tata bahasa adalah sebuah teori filsafat dari partes orationis dan dicirikan dalam modus yang menunjuk itu (modi significandi). Dari zaman tata bahasa spekulativa ini kita mengenal seorang gramatikus bernama Peter Hellias. Ia mengikuti jejak Priscia, tetapi selalu memberikan komentar berdasarkan logika Aristoteles. Norma Logika ini dipakai untuk menyatakan sebuah tutur benar atau tidak berdasarkan logika.
·         PETRUS HISPANUS
Sarjana dari Zaman Pertengahan ini menjadi uskup agung pada tahun 1273 dan menjadi paus September 1276. Petrus Hispanus telah memasukkan psikologi dalam analisis bahasa. Petrus Hispanus membedakan antara significatio, suppotio, dan appelativa.
Hal lain yang dikemukakan adalah membedakan ada 2 macam: nomen substantivm dan nomen adjectivum.
Petrus hispanus juga membedakan partes oratiotis atas apa yang disebut Categorematik dan Syntaegoematik. Dalam hal makna, Hispanus membedakan pula antara Signifikasi Utama dan Konsignfikasi. Yang dimaksudkan dengan perbadaan ini ialah pengertian akar bentuk dan pengertian yang dikandung oleh imbuhan-imbuhan. Tentu saja pada zaman ini Hispanus belum membedakan pengertiaan morfem bebas dan morfem terikat.
·         Renaissance
Zaman renaissance berhubungan dengan kata renaitre yang bermakna lahir kembali. Zaman Renaissance yakni perubahan peradaban dan kebudayaan Eropa menuju kehidupan modern. Pada masa renaissance yang sangat berpengaruh adalah humanisme (kemanusiaan). Humanisme adalah prinsip pendidikan yang memakai bahasa kuno sebagai dasar studi, jadi mempelajar bahasa dan kebudayaan klasik dengan tujuan pedagogis dan ilmiah.
Berbicara tentang renaissance, ada dua hal yang merupakan kebanggaan :
Ø  Tuntutan terhadap manusia untuk menjadi homo trilinguis (menguasai bahasa Yunani, Latin, Ibrani).
Ø  Bahasa-bahasa di luar Eropa mendapat perhatian dan diperbandingkan.
KESIMPULAN
Dalam kajian bahasa pada abad ke 13, ada  sekelompok sarjana yakni kaum modistae. Ada tiga modus yang disampaikan oleh para sarjana ini, yaitu modi essensi, modi inteligendi, modi sifnificandi. Dari ketiga modus yang ada, yang paling ditekanakn oleh kaum modistae adalah modi intelegendi karena bahasa menganut prinsip  logika dan bahasa tunduk pada aturan aturan (rulu-governed).
Tata bahasa spekulativa adalah hasil daripada integerasi deskripsi gramatical, bahasa latin seperti yang dirumuskan oleh priscia dan donatus ke dalam sistem filsafat skolastika. Tugas dari tata bahasa spekulativa adalah menemukan prinsip prinsip tempat kata kata sebagai sebuah tanda dihubungkan pada pihak dengan intelek manusia kepada pihak lain dihubungakan kepada benda yang ditunjuk atau di wakilinya(referens).
Hispanus membedakan pula antara Signifikasi Utama dan Konsignfikasi. Yang dimaksudkan dengan perbadaan ini ialah pengertian akar bentuk dan pengertian yang dikandung oleh imbuhan-imbuhan. Tentu saja pada zaman ini Hispanus belum membedakan pengertiaan morfem bebas dan morfem terikat.
Zaman Renaisance, yakni perubahanperadaban dan kebudayaan Eropa menuju kehidupan modern (berkembangnya teknologi, transportasi, dan industri).