Kamis, 08 Desember 2011

TINDAKAN PREVENTIF DI SEKOLAH DASAR


PENDAHULUAN
Di sekolah, kita sering mendengar atau membaca kata konseling. Biasanya kita mendengar kata tersebut ebagai ekor dari bimbingan. Sebenarnya konseling hanya merupakan salah satu teknik membimbing atau teknik menolong. Kenyataan bahwa konseling selalu disebutkan secara eksplisit menunjukkan bahwa teknik konseling ini dipandang penting dalam bimbingan.
Secara luas, konseling adalah pertolongan atau bimbingan melewati wawancara atau wawancara yang bertujuan memberi pertolongan/bimbingan.
Wujud dan isi dari pertolongan bervariasi tergantung dari kebutuhan atau masalah yang dihadapi oleh siswa. Di antaranya pemecahan masalah, pengambilan keputusan penting, mengatasi konflik atau menghadapi tantangan hidup, mengubah tingkah laku, dan lain-lain.
Bimbingan konseling adalah salah satu unsur penting yang ada di sekolah. Bimbingan dan konseling (BK) merupakan salah satu bentuk dari komitmen sekolah untuk membantu siswa tidak dalam hal akademik saja, tetapi juga secara afektif maupun psikologis. Siswa yang tentu saja memiliki latar belakang berbeda satu sama lain memiliki permasalahan yang berbeda-beda pula. Permasalahan tersebut banyak juga yang menjadi penghambat seorang siswa dalam belajar di sekolah. Permasalahannya dapat berupa permasalahan diri sendiri, seperti kurang percaya diri, tidak menyukai pelajaran tertentu, membenci guru tertentu , dan sebagainya. Permasalahan juga dapat berasal dari lingkungan sekitar, seperti keadaan orangtua yang bercerai, kekerasan dalam rumah tangga, pengaruh negatif dari lingkungan tempat tinggal, dan lain-lain.
Perkembangan masyarakat dan pendidikan dewasa ini membawa kenyataan bahwa program bimbingan yang terorganisir di sekolah dasar dan sekolah menengah merupakan tindakan yang bersifat kontinyu. Bimbingan adalah satu bagian integral dalam keseluruhan program pendidikan yang mempunyai fungsi positif dan mengedepankan proses, bukan sekedar kekuatan korektif. Bimbingan diadakan sejak kontak pertama sang anak dengan sekolah, sampai anak dewasa dan mendapatkan tempatnya di masyarakat, atau melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Pendekatan bimbingan dapat berubah-ubah sesuai dengan perubahan kebutuhan anak dalam perkembangannya (Gunawan, 1992:178).

TINDAKAN PREVENTIF DI SEKOLAH DASAR
Ada beberapa catatan penting (Gunawan, 1992:179) mengapa bimbingan konseling di sekolah dasar merupakan program yang sangat penting dalam sebuah instansi pendidikan :
a)    Kepribadian anak masih sangat luwes dan belum menemukan banyak persoalan hidup yang dapat mengakar secara mendalam. Selain itu, kepribadian anak mudah terbentuk dan masih akan mengalami banyak perubahan dalam proses perkembangannya.
b)   Orangtua murid masih sering bekerjasama dan berhubungan dengan guru kelas. Orang tua masih aktif dalam mengikuti perkembangan pendidikan sang anak di sekolah dasar.
c)    Anak masih punya waktu terbuka untuk masa depannya, sehingga di sekolah dasar anak dapat belajar mengenali diri sendiri dan menemukan cara-cara pendekatan untuk menghadapi suatu persoalan dan cara memecahkannya di kemudian hari.
Ada sebuah kasus (Psikologi Plus, Januari 2009) dalam artikel berjudul Anak Korban Kekerasan Dalam Keluarga. Amy dan Jessica adalah dua kakak beradik yang lahir dan besar di Amerika mengaku menjadi korban ambisi ibu kandungnya sendiri. Mereka diharuskan mengikuti berbagai les di luar pendidikan formal agar berhasil mendulang prestasi. Namu yang terjadi adalah mereka menjadi ketakutan bertemu ibunya dan menyebut ibu mereka sakit jiwa.
Pada masa sekolah dasar, kepribadian anak dapat terbentuk sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangannya. Dan hal itu sanget luwes. Kasus di atas merupakan tindakan salah yang dilakukan orangtua kepada anaknya. Anak seharusnya tidak dipaksa untuk mengikuti suatu kegiatan di mana anak tersebut belum tentu menyukainya. Dampak yang ditimbulkan dapat berupa depresi sampai trauma. Disebutkan bahwa Amy dan Jessica ketakutan ketika bertemu ibunya. Hal ini juga merupakan sinyalemen bahwa Amy dan Jessica mengalami kekerasan dalam keluarga secara psikis. Mereka dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai dan mereka kemudian mengalami trauma.
Anak-anak yang memperoleh perlakuan kekerasan dari orangtua maupun kalangan dewasa mempunyai kecenderungan untuk bersifat agresif saat mereka dewasa nanti. Anak tersebut akan berlaku kejam terhadap orang lain seperti kepada anak-anaknya sendiri, atau bahkan kepada orangtuanya sendiri. Ketika seorang anak dididik dengan kekerasan, si anak akan terbiasa mengekspresikan dirinya dengan kekerasan pula. Bila tindakan kekerasan terhadap anak-anak dibiarkan terus dan tidak diberi intervensi psikologis, suatu saat akan muncul budaya kekerasan di tengah masyarakat yang ditimbulkan oleh anak-anak korban kekerasan.
Permasalahan anak seperti ini dapat mengganggu kegiatan belajarnya di sekolah. Jika bimbingan hanya memberikan pelayanan kepada anak yang mengalami problem pribadi yang serius saja, sekolah dasar tidak memerlukan program bimbingan yang terorganisir. Pandangan tentang BK yang tidak menekankan tindakan korektif belaka, melainkan menekankan program preventif yaitu menyediakan suasana atau situasi perkembangan yang baik, sehingga setiap anak dapat terdorong belajar dan mengembangkan pribadinya sebaik mungkin serta terhindar dari praktek-praktek yang merusak perkembangan anak. Sekolah menjadi sebuah tempat anak untuk dapat berkembang sesuai dengan perkembangan yang seharusnya. Sekolah juga menjadi patokan di mana seorang anak pada usia tertentu harus bisa menguasai kompetensi tertentu, bagaimana seharusnya seorang anak bersikap sesuai dengan usianya. Permasalahan pribadi anak, tentunya akan mempengaruhi kehidupannya di sekolah. Jika permasalahan pribadi anak memberikan pengaruh buruk, maka sekolah dapat menjadi suatu tameng untuk menghindari dampak-dampak negatif bagi sang anak.
Dalam sebuah artikel berjudul Psikososial : Mendidik Anak Secara Kontekstual (Psikologi Plus, Januari 2009) dituliskan bahwa anak diberi kesempatan untuk memilih dan menjalani hidupnya dan orangtua hanya bisa mengarahkan. Seringkali kita mendengar sebutan orangtua kolot yang mengatur segalanya berkaitan dengan anaknya sehingga mereka memiliki tekanan.
Dalam artikel tersebut juga dicontohkan sebuah film sebagai kasus, yang berjudul Ekskul (2006). Film ini menceritakan tentang seorang anak bernama Joshua yang selalu mendapat tekanan fisik dan emosi baik di lingkungan keluarga maupun pergaulannya di sekolah. Akibatnya dia menjadi depresi dan menyandera teman-temannya karena merasa dirinya hanya sebagai bahan lelucon saja. Ending film sangat tragis dimana Joshua bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri. Film ini ingin menunjukkan potret pendidikan atau pendampingan keluarga, sekolah, bahkan masyarakat.
Seringkali maksud orangtua ketika mencoba mengontrol segala perilaku anak untuk menghindarkan dari hal-hal negatif. Tetapi, kontrol itu seringkali terlalu berlebihan sehingga anak justru menjadi tidak mandiri bahkan menjadi pemalu karena saat melakukan sesuatu selalu saja diatur. Usia sekolah dasar adalah saat anak  dan semua perilakunya didominasi oleh perkembangan intelektual dan performance atas daya upayanya. Anak sangat mengharapkan pengakuan dari teman, guru, orangtua, atau siapapun. Apresiasi sangat dibutuhkan oleh mereka. Mendukung mereka melakukan sesuatu, membantu mereka menyelesaikan, membiarkan mereka menyelesaikan dengan cara mereka sendiri, dan membesarkan hati mereka atas segala upayanya merupakan dukungan yang kuat untuk pembentukan karakter mereka.
Untuk mewujudkan peran BK dalam perkembangan anak di sekolah dasar, Havighurst (1957) menyebutkan ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru BK maupun guru kelas :
a)    Mempelajari ketrampilan fisik anak. ketrampilan fisik berguna bagi kehidupan sang anak, terutama untuk berinteraksi dengan anak-anak lain saat bermain bersama. Peranan dan penghargaan teman sebayanya sangat ditentukan oleh perkembangan ketrampilan ini.
b)   Membangun sikap yang sehat terhadap diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh. Anak dibiasakan untuk menghargai, memelihara, menjaga kebersihan dan keamanan tubuhnya, serta memiliki sikap yang sehat terhadap tubuhnya sendiri.
c)    Belajar bergaul dengan teman sebayanya. Anak belajar menerima dan memberi di antara teman sebayanya. Anak mulai keluar dari lingkungan keluarganya, menempatkan dirinya di antara teman sebayanya, dan mulai memperoleh kepuasan dalam kehidupan sosial teman sebaya.
d)   Mencapai tingkat kebebasan pribadi. Anak dibimbing untuk mengembangkan diri menjadi pribadi yang mandiri, mampu membuat rencana, dan bertindak dari dirinya yang bebas dari orangtua atau orang dewasa lainnya.
e)    Mengembangkan sikap terhadap kelompok sosial dan lembaga dalam masyarakat. Sikap atau disposisi perasaan dipelajari anak melalui 3 cara:
1)      Meniru orang yang dilihat oleh anak sebagai orang yang berwibawa
2)      Pengumpulan dan kombinasi pengalaman-pengalaman yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan dalam situasi hidupnya
3)      Pengalaman emosional yang mendalam, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan dalam situasi hidup mereka.
Pada poin terakhir tersebut, pengalaman dari situasi hidup dan pengalaman emosional yang mendalam dari seorang anak memberikan pengaruh bagi kehidupan sosialnya kelak. Oleh karena itu bimbingan sangat diperlukan bagi anak dan hal tersebut dimulai oleh institusi pendidikan pada tingkat sekolah dasar.

KESIMPULAN
Bimbingan konseling adalah salah satu unsur penting yang ada di sekolah. Bimbingan dan konseling (BK) merupakan salah satu bentuk dari komitmen sekolah untuk membantu siswa tidak dalam hal akademik saja, tetapi juga secara afektif maupun psikologis. Perkembangan masyarakat dan pendidikan dewasa ini membawa kenyataan bahwa program bimbingan yang terorganisir di sekolah dasar dan sekolah menengah merupakan tindakan yang bersifat kontinyu. Bimbingan adalah satu bagian integral dalam keseluruhan program pendidikan yang mempunyai fungsi positif dan mengedepankan proses, bukan sekedar kekuatan korektif. Bimbingan diadakan sejak kontak pertama sang anak dengan sekolah, sampai anak dewasa dan mendapatkan tempatnya di masyarakat, atau melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
Pada masa sekolah dasar, kepribadian anak dapat terbentuk sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangannya. Dan hal itu sanget luwes. Anak-anak yang memperoleh perlakuan kekerasan dari orangtua maupun kalangan dewasa mempunyai kecenderungan untuk bersifat agresif saat mereka dewasa nanti. Anak tersebut akan berlaku kejam terhadap orang lain seperti kepada anak-anaknya sendiri, atau bahkan kepada orangtuanya sendiri. Ketika seorang anak dididik dengan kekerasan, si anak akan terbiasa mengekspresikan dirinya dengan kekerasan pula. Bila tindakan kekerasan terhadap anak-anak dibiarkan terus dan tidak diberi intervensi psikologis, suatu saat akan muncul budaya kekerasan di tengah masyarakat yang ditimbulkan oleh anak-anak korban kekerasan.
Seringkali maksud orangtua ketika mencoba mengontrol segala perilaku anak untuk menghindarkan dari hal-hal negatif. Tetapi, kontrol itu seringkali terlalu berlebihan sehingga anak justru menjadi tidak mandiri bahkan menjadi pemalu karena saat melakukan sesuatu selalu saja diatur. Usia sekolah dasar adalah saat anak  dan semua perilakunya didominasi oleh perkembangan intelektual dan performance atas daya upayanya. Anak sangat mengharapkan pengakuan dari teman, guru, orangtua, atau siapapun. Apresiasi sangat dibutuhkan oleh mereka.
Sekolah menjadi jembatan bagi anak yang mendapat sebuah nilai tertentu yang dirasa salah jika diterapkan secara umum. Sekolah memberikan bantuan bagi siswa dalam memperbaiki sikap mereka, dan secara khusus dengan bimbingan konseling, dapat menjamin proses belajar mereka di sekolah dengan nyaman.


DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Yusuf. 1992. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Gramedia: Jakarta
Loekmon, Lobby JT. 1991. Tantangan Konseling. Satya Wacana: Semarang
Hapsari, Hendrati. 2009. Anak Korban Kekerasan Dalam Keluarga. Majalah Psikologi Plus, Januari 2009 halaman 10-13.
Prasetyo, Aris Wahyu. 2009. Psikososial: Mendidik Anak Secara Kontekstual. Majalah Psikologi Plus, Januari 2009 halaman 58-64.
Artikel terlampir.

Selasa, 06 Desember 2011

I messed up today :(


Semua dimulai dari Senin sore yang serba bikin nggak pengen ngapa-ngapain. Yups, hari Senin nggak ada kuliah. Ada sih, tp jam 3, itupun si profesor bilang materi kuliah udah selesai. Yo wes.
Di sore hari yang cerah-cerah-kecu (karena tiba-tiba malemnya ujan deres banget) seperti biasa, gw ngetweet random. Inti tweet gw sih sederhana. Karena gw termasuk orang yang kesepian, termarjinalkan, dan difabel, gw jadiin twitter sebagai tempat ngoceh. Kenapa twitter? Karena facebook sudah tidak aman! Sekali update status aneh di facebook, efek dominonya adalah :
  • -        Gw dianggep freak di kelas
  • -        Jadi bahan stand-up comedy
  • -        Friend gw di fb udah mulai banyak, ada saudara pula. Malu sih update status nggak jelas kayak gitu.
  • -        Terakhir..... ya emang males aja di facebook. Apalagi subjek gw ada di twitter #ups


Nggak seperti yang gw harepin sih, tiba-tiba ada seseorang yang ngetweet gw :


BINGUUUNG!!!
Tapi gw tetep stay cool. Begitu baca tweet tadi, langsung nyamper hape dan gw sms dia.
Ternyata gara-gara tweet random gw T_T.
Emang sih beberapa tweet subjeknya dia (nah loh?).
Abis itu dia nyuruh gw (dia bilangnya “sugesti” sih,bukan nyuruh) buat baca gallery apaan gitu. Itu lho, web buat online learning bahasa Inggris. Sumpah! Menunya ribeeeeet banget! Ya tapi kalo udah niat+penasaran,  gw obrak-abrik aja semuanya.
Dan di situ gw nemuin sebuah tulisan yang,mmmmhhh..... seenggaknya bikin gw berpikir ulang mengenai tindakan gw selama ini ke dia. Semua respon gw ke dia yang...apa ya istilahnya.... menggampangkan dia untuk melakukan sesuatu yang ternyata bagi dia cukup sulit untuk dilakukan. Dan terlalu meremehkan beberapa memori yang ternyata buat gw lumayan berpengaruh (bukan “lumayan” sih, tapi “sangat”) di hidup gw setelah ketemu dia.
Salah gw juga sih. Udah tau dia orangnya peka (peka ama kepo sama nggak sih? :P) gw malah ngetweet sesuatu tentang dia.
Ada beberapa hal sih yang bikin gw susah. susah karena? Ya susah pokoknya. Ababil jaman sekarang sih lebih milih kata “galau” daripada “susah”.
  • -        Banyak kebiasaan dia yang sekarang mulai jadi kebiasaan gw. Kayak naik motor sambil dengerin musik. Asik juga lho. Tapi katanya dia udah nggak mau kayak gitu, takut kena razia polisi. So yesterday banget ya gw...
  • -        Kehidupan gw mulai jadi slow motion. Biasanya segala sesuatu yang gw lakuin pasti ngebut. Make sepatu ngebut. Mandi ngebut. Belajar ngebut. Berdoa ngebut. Boker ngebut (kalo yg ini relatif XD).
  • Suatu hari di siang yang panas, gw lihat dia mau pulang ke rumah. Dia naik motor. Dengan pelaaaaaan sekali dia mempersiapkan dirinya untuk naik motor (entah cuma perasaan gw atau nggak, pokoknya semua jadi kerasa slow motion. Kayaknya gw lebay deh). Dia pake jaket, headset, dan helm dengan pelan dan itu sudah terlalu cukup untuk membuat gw jadi lebih rileks dalam melakukan sesuatu #skip #skip #skip
  •   Yang terakhir: dia itu expert banget olahraga lari. Nih sekarang dia masih lari-lari di pikiran gw.


Beberapa hari ini gw punya soundtrack (bahasa Indonesianya : Lagu Wajib Personal) kalo lagi naik motor.

And in another life,  I would be your girl >>> “girl”nya diganti boy deh :P gw bkn homo
We keep all our promises, be us against the world
And in other life, I would make you stay
So I don’t have to say to you were the one that got away

Kata Raditya Dika sih, ngadepin cewek tu susah. Satu-satunya cara ya cuma pura-pura mati doang.
Gw sekarang juga pengen pura-pura mati. Abis itu idup lagi, then I would make her stay.
Ngarepnya sih gitu J
#finish

Jumat, 18 November 2011

Kita Ini Beruntung...

Seorang bocah cilik di perempatan jalan. Hari itu sedang gerimis. Aspal mulai terlihat basah. Bocah itu tetap di separator jalan, mengemis tanpa payung atau topi, atau apapun yang menutupi kepalanya. Hari itu, pertama kali saya melihat bocah itu, pada pukul 9 pagi. Saat itu matahari terik. Jika ada orang yang baru datang dari luar negeri dan berada di tempat dan waktu itu, dia tidak akan menyangka kalau saat itu adalah musim hujan.
Gerimis pukul 3 sore, sangat kontras dengan keadaan 6 jam yang lalu. Entah kenapa, saya ada sedikit keinginan untuk mencampuri urusan orang. Mencampuri urusan bocah itu. Sepulang dari kampus, sengaja saya lewat perempatan tempat sang bocah “bekerja”. Ketika hampir sampai perempatan, saya pinggirkan motor, saya tinggal dengan keadaan terkunci. Dengan berjalan kaki, saya menuju rumah kosong di pojokan perempatan. Kata orang di sana angker, tapi peduli amat. Saya diam di situ, menunggu selama 4 jam. Saya ditemani oleh nyamuk-nyamuk dan beberapa tikus yang lalu lalang di rumah kosong itu. Iseng mengamati bocah itu, dari balik tembok setinggi bahu, saya coba menghitung berapa kali dia mendapat uang dari mengemis. 4 jam menadah tangan, 13 kali si bocah mendapat uang. Saya perkirakan, dia cuma mendapat tidak lebih dari Rp 12.000,-. Badannya setengah basah, di bawah pohon si bocah sempat menghitung penghasilannya. Kemudian dia beranjak dari perempatan, pulang. Saya ikuti dia dari jarak sekitar 50 meter. Dari perempatan dia menuju ke sebuah gang. Masuk agak jauh ke gang, si bocah menuju ke sebuah masjid (atau mushola?). Anggapan saya, dia hendak sholat. Ternyata dia menuju tempat wudhu, mengambil botol air mineral dari tas kecilnya. Botol itu diisi dengan air keran. Lalu dia beranjak dari masjid tersebut, dan berjalan keluar dari gang. Saya sempat kaget saat dia melewati rute yang sama saat dia menuju masjid. Saya pura-pura duduk di angkringan yang belum digelar, sambil memainkan handphone. Bocah itu lewat di depan saya. Untung saja bocah itu tidak tahu kalau saya mengikuti dia. Di perjalanan, si bocah membuka botol air mineral yang telah diisinya dengan air keran. Dia meminumnya. Orang lain mungkin beranggapan kalau dia minum air mineral, atau paling tidak air masak yang diisinya sendiri di rumah. Tapi saya tahu kalau dia minum air keran dari masjid.
Si bocah kemudian berjalan menuju jalan raya, melewati jembatan, lalu turun ke bawah, ke lereng di pinggir sungai. Ternyata di bawah ada beberapa gubuk (benar-benar gubuk). Saya kira tempat itu adalah pemukiman liar, dilihat dari akses jalannya yang sama sekali tidak memenuhi syarat untuk pemukiman pada umumnya. Jalan ke bawah hanya berupa undakan kecil selebar kurang dari satu meter. Gubuk-gubuk di bawah hanya berbentuk seperti tempat “jaga sawah”, hanya bentuknya lebih besar dan lebih berwarna-warni karena terbuat dari bekas spanduk iklan. Banyak sampah-sampah yang sudah ditata rapi. kelihatannya penghuni di situ adalah para pemulung. Dari atas, saya melihat anak itu sudah turun ke bawah. Saya penasaran, di mana kira-kira rumah bocah itu. Namun dari raut wajahnya, si bocah seperti enggan untuk masuk lebih dalam lagi ke pemukiman. Tidak berapa lama, seorang setengah baya menghampiri si bocah. Entah itu ayahnya, entah keluarganya. Saya tidak bisa mendengar orang tersebut bicara apa dengan si bocah, tapi kemudian si bocah membuka tas kecilnya yang lusuh, mengeluarkan uang hasil mengemisnya tadi. Orang setengah baya itu mengambil semua uang si bocah.
Orang itu pergi setelah mendapat uang. Si bocah, dengan wajah agak kecewa (dan takut, saya benar-benar bisa melihat hal itu dari warna mukanya) berlalu dan menuju ke arah kanan, masuk ke pemukiman lebih dalam. Saya terpaksa turun ke bawah mengikuti si bocah. Si bocah berhenti di salah satu gubuk. Dia masuk ke dalam. Saat itu juga saya mendengar ocehan wanita dari dalam gubuk. Si bocah sedang diomeli oleh seorang wanita. Inti dari omelannya adalah komentar buruk terhadap si bocah, si bocah dikatai tidak berguna, dan lain-lain. Si bocah keluar dari dalam gubuk, dan duduk. Dia menenteng beberapa buah buku. Dia merapal doa, kemudian membaca salah satu buku. Sumpah, mukanya serius dan sangat bersemangat. Berbeda sekali dengan warna mukanya saat dia mengemis.
Buku yang lusuh sekali dengan sampul dominan biru, dengan beberapa ornamen mozaik warna warni. Dari jauh, dengan jarak 2 gubuk dari si bocah, saya memicingkan mata sembari penasaran apa kira-kira yang tengah dibacanya. Saya kenal buku itu. Makin lama saya amati, saya yakin kalau saya benar-benar tahu itu buku apa. Di sampulnya tertulis : PELAJARAN MATEMATIKA UNTUK SD KELAS V. Saya tahu buku itu, teman saya yang di program studi PGSD pernah menunjukkan buku itu pada saya.
Saya makin penasaran lagi. Darimana si bocah mendapatkan buku itu? Apa si bocah punya uang? Apakah orangtuanya (atau siapapun di pemukiman itu) ada yang membelikan dia buku? Buku itu lumayan baru, dan harganya masih mahal. Apalagi si bocah sejak pagi sampai sore berada di perempatan, bekerja. Kesimpulan yang saya ambil adalah si bocah tidak bersekolah.
Dia membalik halaman bukunya, sambil membuat coretan di tanah. Coretan-coretan tentang trapesium, dengan hitungannya.
Mata saya panas. Dada saya juga panas.
Di sampingnya saya juga melihat ada buku lain. sepertinya itu buku mata pelajaran IPS. Tertulis di sampulnya.
Saya kemudian memilih pulang. Saya diam, seperti habis ditegur. Saya seperti melakukan kesalahan besar.

Jika saja bocah itu diberi minum susu, atau setidaknya minum dengan air yang lebih bersih dari keran.
Jika saja bocah itu diberi uang saku dan dibiayai.
Jika saja bocah itu diberi buku baru, diberi meja dan kursi untuk belajar, disekolahkan, diberi buku tulis dan pena, diberi kalkulator untuk menghitung.
Mungkin suatu saat dia bisa menjadi presiden. Mungkin dia bisa menjadi profesor. Mungkin dia bisa menjadi seorang teknisi handal seperti Pak Habibi. Mungkin dia bisa melebihi geloranya Pak Karno. Mungkin dia bisa lebih berkuasa dari Pak Harto. Mungkin dia bisa menjadi seorang yang hebat.

Pertanyaan besarnya : Adilkah ini? Adilkah kita? Masih adakah kata santai di kamus kita? Pantaskah kita bersenang-senang?

Saya Marwan. Saya menyaksikan semua itu dengan mata saya sendiri, menguntit dengan keinginan saya sendiri, mengikuti dengan kaki saya sendiri, merasakan dengan hati saya sendiri, dan menutup mata dengan tangan saya sendiri. Saya merasa dipecundangi.

Minggu, 30 Oktober 2011

22 Oktober 2011

Musikalisasi puisi. Level duduk, karpet, backdrop, kursi lipat, microphone, meja, gitar akustik, jimbe, viewer, tanaman, dan sebagainya.
Musikalisasi puisi. Apa itu? Jawabanku cukup klasik : nggak tau. Setauku ya, musikalisasi puisi itu adalah puisi yang diiringi musik, atau malah musik yang diiringi puisi? Dulu pernah dapet kuliah macam gini, tapi saat dosen lagi bahas tentang “Musikalisasi puisi itu adalah puisi yang diiringi musik, atau malah musik yang diiringi puisi?”, kepalaku udah nempel di meja, mata merem melek nahan kantuk, dan kuping aku tutup pake headset. Kelanjutan materi kuliahnya? Wassalam.
Yak. Sialnya aku kena jatah jadi CO perlengkapan. Semua peminjaman barang menjadi tanggung jawab perlengkapan. ada 1 partner CO dan 4 anggota. Karena semua anggota nggak ada waktu luang di sela kuliah, 80% surat peminjaman aku yang anter ke BAA. Ampe petugas BAA-nya hapal ama mukaku.
Baru mau ketok pintu kantor (red. Tanganku BELUM NYENTUH PINTU!), si ibu udah ngomong “Mau pinjem lagi mas?”
“Iya bu.”
“Duduk dulu mas. Nama acaranya apa mas?”
“Bulan Bahasa bu. Ini suratnya”.
~~sreet sreeet sreeet~~ si ibu berambut pendek,berkawat gigi, berhidung kecil tapi mancung, dan berpostur tubuh kecil ini checking ke buku catatannya yang lebih mirip buku arisan daripada jurnal peminjaman barang-barang kampus.
“konfirmasinya seminggu lagi ya mas”.
“Iya Bu. Terimakasih”.
SEMINGGU KEMUDIAN
“Permisi bu”.
“Masuk mas. Duduk dulu”.
“Saya mau konfir..... “ (red. Aku belum selesai ngomong!)
“untuk karpetnya cuma ada 3 mas, lalu level kaki dan level duduk seadanya gimana mas? Soalnya ini juga mau dipake buat dies natalis. Tandatangan di sini ya mas, sama contact personnya”.
#speechless

Barang-barang udah dapet. Tinggal koordinasi ama dekorasi buat gimana nanti masang panggungnya. Dan waktu pun terus bla bla bla bla bla hingga sampai di hari H.
Divisiku dapet jatah kerja jadi babu di belakang panggung, nanyain sama yang mau perform kira-kira butuh apa di panggung (setauku langkah kerjanya kayak gini : Seksi acara nanyain ke peserta mau nampilin apa, buth microphone berapa, butuh gitar berapa, alat musiknya apa aja. Semuanya di list. Terus listnya di kasih ke perlengkapan. dan kalau bisa list itu udah ada di perlengkapan sebelum acara dimulai. Tapi....perlengkapan lah yang nanyain ke peserta mau butuh apa, bla bla bla bla).
Penampilan peserta lomba selesai. Selanjutnya penampilan dari teater. Alat-alatnya udah lengkap, mereka Cuma butuh stand beserta microphonenya, ditaruh di depan panggung, biar kalo teriak-teriak suaranya masuk ke sound. Untuk musik pengiring, cukup pake laptop. Saat udah mau perform teater, laptop yang ada di meja operator ILANG! (dan itu adalah laptopku!) Sempet bingung mau nyari laptop di mana lagi. Untung ada panitia lain yang bawa laptop. Alhasil, perform teater mundur 10 menit dari rundown.
Pertanyaan besarnya adalah : di mana laptopku?
Ternyata laptopku diambil panitia lain (entah itu seksi acara atau steering comitte) trus dipinjemin lagi ke juri musikalisasi puisi.

Satu pertanyaan besar lagi : Laptopku itu ada di meja operator, udah ditancepin ke kabel sound dan kabel VGA, aku taruh di meja operator, di samping soundman. Sumpah demi nama bapakku, orang bodoh mana yang nganggep laptop di posisi kayak gitu punya predikat “nganggur”???
Ternyata perlengkapan cuma dapat kata maaf. Terlambat.




2 hal yang bisa disimpulkan :
1.      Biar efektif, perlengkapan digabung aja sama seksi acara dan timer, biar CO perlengkapannya kena radang otak akut
2.      Besok besok lagi, kalo ada laptop operator, atasnya dikasih tulisan ukuran banner 3x4 meter
LAPTOP INI SEDANG DIPAKAI DAN TIDAK NGANGGUR

Kamis, 24 Maret 2011

Memenuhi Standar-standar Melalui Strategi-strategi Pengajaran yang Berpusat pada Siswa


Pengajaran yang Berpusat Pada Siswa
Pengajaran yang berpusat pada siswa menggambarkan strategi-strategi pengajaran di mana guru lebih memfasilitasi daripada mengajar langsung (McCombs & Miller, 2007).
Tujuan-tujuan yang dapat dicapai dengan efektif dalam strategstrategi pengajaran yang berpusat pada siswa mencakup hal-hal berikut ini :
·         Pengembangan proses-proses skill berkomunikasi
·         Pengembangan pemahaman yang mendalam tentang topik
·         Pengembangan skill-skill penelitian dan pemecahan masalah

Pengajaran yang berpusat pada siswa menyertakan karakteristik-karakteristik berikut ini :
·      Siswa-siswi merada di dalam pusat proses pembelajaran; sedangkan guru mendorong mereka untuk bertanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri.
·      Guru membimbing pembelajaran siswa dan mengintervensi hanya jika diperlukan untuk mencegah mereka salah jalan atau mengembangkan konsepsi yang salah.
·      Guru menekankan pemahaman yang mendalam tentang konten dan proses-proses yang terlibat di dalamnya.

Guru terkadang salah menafsirkan pengajaran yang berpusat pada siswa. Beberapa kesalahan penafsiran adalah sebagai berikut :
·      Tujuan-tujuan yang jelas dan persiapan yang cermat kurang penting dalam pengajaran yang berpusat pada siswa daripada dalam pendekatan-pendekatan yang berpusat pada guru.
·      Jika siswa dilibatkan dalam diskusi dan bentuk-bentuk interaksi yang lain, pembelajaran akan terjadi secara otomatis.
·      Guru memainka peran yang kurang penting dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa daripada dalam pengajaran tradisional.

Strategi-strategi Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan istilah umum untuk sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja sama kelompok dan interaksi antarsiswa. Persamaan antar semua strategi ini adalah dalam hal bahwa para siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil untuk mencapai tujuan-tujuan bersama. Strategi-strategi pembelajaran kooperatif secara khusus dirancang untuk mendorong siswa dalam bekerja sama dan saling membantu satu sama lain untuk mempelajari tujuan-tujuan umumnya.
Ada 5 elemen dasar yang menjadi landasan dari semua strategi pembelajaran kooperatif yang efektif :
·      Interaksi sosial diterapkan untuk memfasilitasi pembelajaran
·      Siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok untuk menyelesaikan tugas-tugas
·      Sasaran-sasaran pembelajaran melahirkan tujuan-tujuan kelompok yang kemudian mengarahkan aktivitas pembelajaran dalam kelompok
·      Guru bertanggung jawab atas pembelajaran siswa secara individu
·      Siswa mengembangkan ketrampilan-kerampilan kerja sama dan juga sasaran-sasaran konten pembelajaran

Guru yang menerapkan strategi pembelajaran kooperatif dalam kelasnya mengidentifikasi wilayah-wilayah yang berpotensi memunculkan masalah seperti berikut ini :
·      Perilaku-prilaku yang off-task (melalaikan tugas)
·      Gagal untuk mencapai kebersamaan
·      Berperilaku buruk
·      Pemanfaatan waktu kelompok yang tidak efektif

Jenis-jenis Pembelajaran Kooperatif
Ada beberapa jenis pembelajaran kooperatif yang dibedakan dalam hal tujuan-tujuan dan prosedur-prosedur yang ada :
1.    Kerja kelompok
Merupakan salah satu strategi pengajaran yang mengharuskan siswa untuk bekerja sama. Strategi ini biasanya digunakan sebagai tambahan atas strategi-strategi lain, seperti strategi pengajaran langsung yang berpusat pada guru atau diskusi-ceramah. Kerja kelompok dapat digunakan untuk mengajar tujuan-tujuan tingkat tinggi dan tingkat rendah.
Kerja kelompok juga bisa digunakan untuk merangsang pemikiran siswa dalam bidang konten yang sama, seperti berikut ini :
·         Mengembangkan skill-skill pemecahan masalah siswa
·         Membantu siswa memahami kecenderungan-kecenderungan dan hubungan sebab-akibat dalam studi-studi sosial
·         Mengajari siswa bagaimana merancang eksperimen-eksperimen dalam sains
·         Memberika umpan balik terhadap catatan-catatan tertulis
Ada 4 faktor yang berpengaruh pada efektivitas strategi ini :
·         Strategi ini membangkitkan jawaban-jawaban dari setiap siswa dalam kelas dan mendorong pembelajaran aktif
·         Setiap anggota pasangan diharapkan untuk berpartisipasi, strategi ini dapat mengurangi anggota yang pasif dalam kelompok
·         Strategi ini relatif mudah untuk direncanakan dan diterapkan
·         Strategi ini bisa membantu siswa membuat pengalihan pada strategi yang lain, strategi-strategi pembelajaran kooperatif yang lebih kompleks
Saat siswa mengerjakan, guru mengawasi proses tersebut dan mendorong siswa untuk mendiskusikan alasan-alasan mengapa jawaban-jawaban tersebut benar. Selain itu guru harus menyediakan waktu cadangan pada akhir aktivitas agar seluruh siswa berdiskusi tentang semua hal yang tidak menjadi kesepakatan umum antarsiswa atau yang masih membingungkan mereka.

2.    Student Teams Achievement Division (STAD)
Dalam STAD, siswa-siswa yang berkemampuan tinggi dan siswa-siswa yang berkemampuan rendah dipasangkan dalam satu tim yang rata-rata terdiri dari lima atau enam orang, dan skor-skor tim didasarkan pada sejauh mana siswa mampu meningkatkan skor mereka dalam tes-tes keterampilan.
Langkah-langkah yang dilibatkan dalam menerapkan STAD adalah sebagai berikut :
a)    Mem-pretest siswa
b)   Me-ranking siswa dari yang paling atas hingga paling bawah
c)    Membagi siswa sehingga setiap kelompok memiliki keberagaman
d)   Menyajian konten
e)    Membagi lembar kerja-lembar kerja yang telah dipersiapkan, yang fokus pada konten yang akan dipelajari
f)    Memeriksa kelompok-kelompok untuk kemajuan pembelajaran
g)   Mengelola kuis-kuis individual untuk setiap siswa
h)   Memberikan skor kelompok berdasarkan skor yang diperoleh perorangan

3.    Investigasi kelompok
Investigasi kelompok menempatkan siswa dalam tiga sampai enam kelompok untuk menyelidiki atau menyelesaikan beberapa masalah umum. Siswa bertanggung jawab dalam mengembangkan tujuan-tujuan kelompok yang spesifik, menilai tanggung jawab perseorangan, dan berusaha menyelesaikan proyek yang telah ditugaskan. Kerja sama dipelihara melalui tujuan-tujuan umum kelompok, dan skor atau nilai diperuntukkan seluruh proyek.
Terdapat 6 langkah dalam investigasi kelompok :
1)      Pemilihan topik
Siswa memilih topik untuk diselidiki dalam satu bidang umum
2)      Perencanaan kooperatif
Siswa dengan bantuan guru merencanakan bagaimana mengumpulkan daa dan aktivitas pembelajaran lain
3)      Penerapan
Siswa menerapkan rencana yang mereka buat, dengan menggunakan strategi-strategi pembelajaran dan sumber-sumber data yang berbeda
4)      Analisis dan sintetis
Siswa menganalisis dan mengelola informasi yang telah mereka kumpulkan untuk dipresentasikan pada kelompok lain
5)      Penyajian hasil akhir
Siswa membagi dan mendiskusikan informasi yang telah mereka kumpulkan
6)      Evaluasi
Siswa membandingkan penemuan-penemuan dan perspektif-perspektif, dan mendiskusikan persamaan maupun perbedaannya.

4.    Jigsaw
Merupakan salah satu jenis strategi pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelidiki suatu topik umum (Aronson, Wilson,& Akert, 2005). Topik-topik ini biasanya memiliki skop yang cukup luas yang setiap anggota dalam satu tim ditugaskan untuk mengerjakan subjek-subjek tertentu dalam topik tersebut. Setiap individu kemudian bertanggung jawab untuk meneliti dan mempelajari bidang spesialisasi mereka dan mangajarkan topik-topik ini kepada anggota-anggota lain. Semua siswa diharapkan mempelajari semua informasi topik tersebut, dan kuis yang komprehensif bisa digunakan untuk menambah laporan-laporan kelompok untuk dijadikan ukuran penilaian.

Penelitian mendukung strategi ini. Siswa-siswa yang bekerja dalam kelompok-kelompok kooperatif meningkatkan skill-skill sosial, mengembangkan sikap menerima atas teman-temannya yang memiliki keunikan-keunikan, menciptakan persahabatan dan sikap positif dengan others yang berbeda dalam hal prestasi, etnisitas, dan gender (Vaughn et al., 2006).
Pengaruh-pengaruh positif pembelajaran kooperatif terhadap sikap-sikap rasial dan interpersonal berakar dari 3 faktor :
1)        Kesempatan bagi jenis siswa yang berbeda-beda untuk dapat bekerja bersama dalam mengerjakan proyek-proyek
2)        Status-status yang setara untuk para partisipan atau peserta (kelompok)
3)        Kesempatan bagi jenis siswa yang berbeda-beda untuk dapat saling belajar satu sama lain sebagai individu-individu (Vaughn et al., 2006)