Rabu, 22 Desember 2010

Makalah Akhir Semester Mata Kuliah Pengantar Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam pendidikan, peran Kecerdasan Emosional (EQ) dan Intelligence Quotient (IQ) sangat menentukan keberhasilan siswa dalam kegiatan belajar. EQ dan IQ harus dikembangkan dengan seimbang, sehingga dalam proses pertumbuhan siswa dapat mengembangkan dirinya dalam kegiatan yang bersifat kognitif sekaligus emosional.
Tetapi kenyataannya, dalam sistem pendidikan di Indonesia, IQ lebih diutamakan daripada EQ. Banyak sekolah mulai dari tingkat Sekolah Dasar, menengah, sampai perguruan tinggi mengukur kemampuan siswanya dengan patokan seberapa besar IQ yang dimiliki oleh siswa tersebut. Salah satu contoh adalah tes IQ.Tes IQ biasa dilakukan untuk mengetahui tingkat kecerdasan intelektual yang berhubungan dengan prestasi akademik yang bisa dicapai oleh seorang siswa ditiap jenjang yang akan ditempuh. Bahkan beberapa sekolah mutlak menggunakan tes IQ sebagai tolok ukur untuk menentukan di mana siswa tersebut ditempatkan, dan jurusan apa yang cocok untuk siswa tersebut, dan untuk menentukan kelanjutan studi saat siswa tersebut kuliah nanti.
Dalam realita, IQ belum bisa menentukan keberhasilan dari seorang siswa dalam kehidupan nyata.Banyak orang beranggapan IQ sangat berpengaruh dalam keberhasilan, namun sebenarnya IQ hanya mengukur seberapa prestasi akademik dari seseorang.Dibutuhkan satu hal penting untuk mencapai keberhasilan yang sesungguhnya, yaitu kecerdasan emosional (EQ).orang yang memiliki kecakapan emosional, salah satunya dalam mengendalikan emosi, lebih memiliki keuntungan dalam dalam setiap bidang kehidupan, terutama dalam kehidupan sosial.Kehidupan sosial ini salah satunya tercermin dalam kegiatan kelompok, dimana pekerjaan diselesaikan secara bersama-sama dengan pembagian tugas.
Menurut Daniel Goleman, EQ lebih penting daripada IQ. Banyak faktor yang mendukung mengapa IQ hanya menentukan sebagian kecil keberhasilan pada diri seseorang.Goleman mendasarkan pemikirannya pada kecerdasan emosional yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam bidang-bidang sosial, sehingga dapat diketahui bagaimana seseorang bisa berhasil walaupun IQ-nya tidak tinggi.Goleman adalah seorang peliput ilmu-ilmu perilaku dan otak pada The New York Times.Ia pernah mengajar di Harvard dan pernah menjadi editor senior di Psychology Today.

B.     Rumusan Permasalahan
Di antara IQ dan EQ, manakah yang lebih menentukan keberhasilan seseorang dalam kerja kelompok?

C.     Tujuan Penelitian
Mengerti mengapa Goleman lebih menitikberatkan EQ pada perkembangan dan keberhasilan seseorang.


BAB II
PERAN INTELLIGENCE QUOTIENT (IQ) DALAM PERKEMBANGAN MANUSIA

Selama ini, banyak orang beranggapan bahwa keberhasilan seseorang ditentukan oleh tingkat kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi.Pendapat ini diperolah karena kebanyakan ukuran dari keberhasilan ditentukan dari seberapa tinggi tingkat kognitif seseorang dalam suatu bidang.Ukuran ini juga dianggap menentukan kualitas kerja seseorang dan dijadikan sebagai patokan. Tetapi pada kenyataannya, banyak orang yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual (IQ) tinggi tersisih dari orang lain yang IQ-nya lebih rendah.
Apa sebenarnya IQ itu? IQ sebenarnya adalah metrik kecerdasan, yang dihasilkan oleh alat ukur yang disebut tes IQ. Sebagai sebuah alat ukur, tes IQ harus relevan mengukur kecerdasan, dan konsisten menghasilkan skor IQ yang sama. Karena mayoritas masyarakat saat ini hidup dalam budaya yang berdasar pada matematika dan bahasa, maka kemampuan menyelesaikansoal matematika dan bahasa dianggap sebagai ukuran umum sebuah kecerdasan.Inilah alasan mengapa tes IQ modern biasanya berisi soal-soal matematika dan bahasa.Bukan karena matematika dan bahasa adalah elemen-elemen kecerdasan yang mutlak, namun karena matematika dan bahasa merupakan elemen-elemen kecerdasan yang diterima dan banyak digunakan oleh masyarakat umum pada saat ini.
Kebanyakan orang seringkali menyamakan antara inteligensi dengan IQ.Padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang jauh.Arti IQ sudah dijelaskan seperti di atas. Sedangkan secara garis besar, pengertian dari intelegensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan konkret yang merupakan perwujudan dari proses berpikir rasional itu. Perbedaan lain yang lebih kentara antara intelegensi dan IQ adalah intelegensi lebih menentukan tindakan rasional mana yang akan dilakukan dalam menghadapi lingkungannya secara efektif dan terarah, sedangkan IQ hanyalah hasil dari tes intelegensi itu.
Dalam dunia pendidikan, terlebih di Indonesia, digunakan untuk mengetahui prestasi awal siswa, sebelum siswa tersebut digolongkan dalam kelas-kelas tertentu.Tes IQ dilakukan untuk mengetahui tingkat kecerdasan intelektual yang berhubungan dengan prestasi akademik di tiap jenjang sekolah.Hal ini tidak mutlak, tetapi banyak sekolah yang menggunakan tes IQ sebagai tolok ukur intelektual seorang siswa.
IQ sebenarnya adalah sebuah metrik kecerdasan yang merupakan sebuah hasil dari tes intelegensi.Banyak orang salah mengerti dan menganggap bahwa IQ sangat menentukan kecerdasan seseorang.Beberapa lembaga pendidikan juga menggunakan tes IQ dalam menentukan di mana seorang siswa harus ditempatkan.Kesalahan persepsi inilah yang harus diluruskan supaya IQ tidak menjadi halangan seorang siswa untuk berkembang.



BAB III
PERAN EMOTIONAL INTELLIGENCE DALAM KESUKSESAN

Selama ini banyak orang menganggap bahwa jika seseorang memiliki tingkat kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi, maka orang tersebut memiliki peluang untuk meraih kesuksesan yang lebih besar di banding orang lain. Pada kenyataannya, ada banyak kasus di mana orang yang memiliki IQ tinggi tersisih oleh orang yang ber-IQ lebih rendah.Goleman, menjelaskan bahwa ada faktor lain yang mempengaruhi kesuksesan seseorang. Faktor tersebut adalah Emotional Intelligence atau biasa disebut EQ. Ini menyiratkan bahwa perasaan kita yang paling dalam, nafsu, dan hasrat kita, merupakan pedoman penting. Emosi menuntun kita menghadapi saat-saat kritis dan tugas-tugas yang terlampau riskan bila hanya diserahkan kepada otak.Setiap emosi menawarkan pola persiapan tindakan tersendiri; masing-masing menuntun kita ke arah yang telah terbukti berjalan baik ketika menangani tantangan yang datang berulang-ulang (Goleman, 1999:4).Bagaimanapun, kecerdasan tidak berarti apa-apa bila bila emosi yang berkuasa.
Ada banyak perkecualian terhadap pemikiran yang menyatakan bahwa IQ meramalkan kesuksesan. Setinggi-tingginya, IQ menyumbangkan kira-kira 20 persen bagi faktor-faktor yang menentukan kesuksesan hidup, dan yang 80 persen ditentukan oleh kekuatan-kekuatan lain. Gardner menyatakan, “Status akhir seseorang dalam masyarakat umumnya ditentukan oleh faktor-faktor bukan IQ, melainkan oleh kelas sosial hingga nasib baik”.
Mengapa IQ hanya sedikit menyumbangkan sesuatu dalam kesuksesan?Kecerdasan akademis praktis tidak menawarkan persiapan untuk menghadapi gejolak atau kesempatan yang ditimbulkan oleh kesulitan-kesulitan hidup.Bahkan IQ yang tinggi sekalipun tidak menjamin kesejahteraan, gengsi, atau kebahagiaan hidup.Sekolah dan budaya kita lebih menitikberatkan pada kemampuan akademis, mengabaikan kecerdasan emosional, yaitu serangkaian ciri-ciri yang juga sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan kita. Kehidupan emosional merupakan wilayah yang, sama pastinya dengan matematika atau kemampuan baca, dapat ditangani dengan ketrampilan yang lebih tinggi atau lebih rendah, dan membutuhkan seperangkat keahlian tersendiri.
IQ dan EQ sebenarnya bukanlah ketrampilan-ketrampilan yang saling bertentangan, melainkan ketrampilan yang sedikit terpisah.Walaupun ada beberapa korelasi antara IQ dengan beberapa aspek kecerdasan emosional, meskipun korelasi itu cukup kecil sehingga jelas-jelas kedua hal itu pada umumnya adalah hal yang terpisah. Berbeda dengan tes-tes untuk IQ yang sudah dikenal, sampai sekarang belum ada tes tertulis tunggal yang menghasilkan “nilai kecerdasan emosional” dan barangkali tidak akan pernah ada hal yang semacam itu. Meskipun ada banyak penelitian mengenai masing-masing komponennya, beberapa komponen, seperti empati, paling banter diuji dengan mengambil contoh kemampuan aktual seseorang sewaktu mengerjakan tugas tersebut.
Hal yang sangat kentara dalam EQ adalah emosi.Emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.Seseorang yang memiliki EQ yang tinggi tentunya harus dapat mengatur emosi mereka.Menurut Mayer (Goleman, 1999:65), orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka :
1.      Sadar diri. Peka terhadap suasana hati mereka ketika mereka mengalaminya; dapat dimengerti bila orang-orang ini memiliki kepintaran tersendiri dalam kehidupan emosional mereka. Pendek kata, ketajaman pola pikir mereka menjadi dasar untuk mengatur emosi.
2.      Tenggelam dalam permasalahan. Mereka adalah orang-orang yang seringkali merasa dikuasai oleh emosi dan tak berdaya untuk melepaskan diri, seolah suasana hati mereka telah mengambil alih keadaan. Seringkali mereka merasa kalah dan secara emosional lepas kendali.
3.      Pasrah. Meskipun seringkali orang-orang ini peka akan apa yang mereka rasakan, mereka juga cenderung menerima begitu saja suasana hati mereka, sehingga tidak berusaha mengubahnya.
Emosi bahkan berperan pada pengambilan keputusan yang paling “rasional”.Oleh karena itu, emosi sangat penting bagi rasionalitas.Dalam liku-liku perasaan dengan pikiran, kemampuan emosional membimbing keputusan kita dari saat ke saat, bekerja bahu-membahu dengan pikiran rasional, mendayagunakan pikiran itu sendiri. Demikian juga, otak nalar memainkan peran eksekutif dalam emosi kita, kecuali pada saat emosi lepas kendali dan otak emosional berjalan tak terkendalikan. Dalam artian tertentu, kita mempunyai dua otak dan dua jenis kecerdasan yang berlainan : kecerdasan rasional dan kecerdasan emosional.
Keberhasilan kita dalam kehidupan ditentukan oleh keduanya; tidak hanya oleh IQ, tetapi kecerdasan emosional-lah yang memegang peranan.Intelektualitas tidak dapat bekerja dengan baik tanpa kecerdasan emosional.Ini menjungkir-balikkan pengertian lama tentang pemisahan antara akal dan perasaan.Anggapan lama mengatakan bahwa ideal berarti adanya nalar yang bebas dari tarikan emosi.Pandangan baru mendorong kita untuk menyesuaikan pikiran dengan hati.Dengan begitu kita dapat memahami dengan lebih tepat tentang menggunakan emosi secara cerdas.




BAB IV
EMOTIONAL INTELLIGENCE DALAM KEGIATAN KERJA KELOMPOK

Hal yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan kerja kelompok adalah EQ. Kerja kelompok sangat memerlukan pengaturan emosi yang tepat.Hal ini dikarenakan setiap kelompok tertentu, pasti memiliki dinamika. Jika dinamika ini dihadapi dengan emosi yang salah, sudah pasti akan terjadi konflik di antara anggota kelompok.
Secara definitif, kelompok adalah dua orang atau lebih yang mempunyai tujuan sama, saling berinteraksi, saling ketergantungan satu sama lain, adanya rasa kebersamaan dan saling memiliki, mempunyai norma-norma dan nilai-nilai tertentu. Secara umum ada 3 hal yang menunjukkan efektif atau tidaknya suatu kelompok, yaitu kemampuan kelompok tersebut dalam mencapai tujuannya seoptimal mungkin, kemampuan kelompok dalam mempertahankan kelompoknya agar tetap serasi, dan kemampuan kelompok untuk berkembang dan berubah sehingga dapat meningkatkan kinerjanya.
Sepanjang individu berinteraksi dengan orang lain, pastilah terjadi sesuatu yang disebut konflik. Konflik dapat terjadi bila suatu kelompok ingin menetapkan suatu tujuan atau metode apa yang akan dipakai untuk mencapai tujuan tersebut. Konflik juga dapat terjadi apabila perhatian utama anggota kelompok tertuju pada dirinya sendiri.Perspektif mereka menjadi sempit dan orientasi mereka hanya pada jangka waktu pendek saja.Konflik tidak selamanya member dampak negative pada suatu kelompok.Di dalam kelompok yang sehat, konflik justru dianjurkan, dan menunjukkkan bahwa semua anggota kelompok aktif dalam berpikir. Berbagai perilaku seperti adu argumentasi, ketidaksetujuan, debat, ide-ide atau informasi yang bermacam-macam ternyata sangat penting dalam meningkatkan kreatifitas dan kualitas kelompok.
Dalam hubungannya dengan kerja kelompok, IQ juga memberi peran walaupun hanya sedikit.IQ merupakan kecerdasan pribadi, dan berpengaruh pada kelompok saat suatu kelompok sedang menghadapi permasalahan dan membutuhkan solusi serta saran-saran yang rasional.Namun IQ kurang berhasil dalam mengatasi konflik yang terjadi di dalam anggota.Diperlukan ketrampilan dalam mengungkapkan ekspresi dan penularan emosi untuk menyelesaikan konflik, sehingga EQ lebih menentukan keberhasilan dalam berkelompok.Kecerdasan emosional mencakup penguasaan dalam menangani hubungan sosial. Apabila anggota kelompok pintar menyesuaikan diri dengan suasana hati orang, atau dengan mudah dapat membawa orang lain berada di bawah pengaruhnya, maka pada tingkat emosional pergaulan mereka akan lebih lancar, dan dengan kata lain dapat menghindari konflik antar anggota kelompok.
Menurut Goleman (Goleman, 1999:166) terdapat empat kemampuan yang diidentifikasikan oleh Hatch dan Gardner sebagai komponen-komponen kecerdasan antarpribadi :
·         Mengorganisir kelompok, ketrampilan esensial seorang pemimpin, ini menyangkut memprakarsai dan mengkoordinasi upaya menggerakkan orang.
·         Merundingkan pemecahan, bakat seorang mediator, yang mencegah konflik atau menyelesaikan konflik-konflik yang meletup.
·         Hubungan pribadi, yaitu empati dan menjalin hubungan. Bakat ini memudahkan untuk memasuki lingkup pergaulan.
·         Analisis sosial, mampu mendeteksi dan mempunyai pemahaman tentang perasaan, motif, dan keprihatinan orang lain.
Orang-orang yang terampil dalam kecerdasan sosial dapat menjalin hubungan dengan orang lain dengan cukup lancar, peka membaca reaksi dan perasaan mereka, mampu memimpin dan mengorganisir, dan pintar menangani perselisihan yang muncul dalam setiap kegiatan manusia.
EQ sangat diperlukan dalam kerja kelompok. Sepanjang individu berinteraksi dengan orang lain, pastilah terjadi sesuatu yang disebut konflik. Konflik ini bisa diselesaikan dengan ketrampilan emosional dan ketrampilan sosial.IQ hanya berpengaruh pada pola pikir seseorang dalam memberi sebuah solusi secara individu, bukan menyelesaikan masalah secara konkret dalam kelompok.






BAB V
KESIMPULAN

EQ lebih menentukan keberhasilan seseorang dalam kelompok.IQ hanya sedikit menyumbangkan sesuatu dalam kesuksesan.Kecerdasan akademis praktis tidak menawarkan persiapan untuk menghadapi gejolak atau kesempatan yang ditimbulkan oleh kesulitan-kesulitan hidup.Bahkan IQ yang tinggi sekalipun tidak menjamin kesejahteraan, gengsi, atau kebahagiaan hidup.Hal yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan kerja kelompok adalah EQ. Kerja kelompok sangat memerlukan pengaturan emosi yang tepat.Hal ini dikarenakan setiap kelompok tertentu, pasti memiliki dinamika. Jika dinamika ini dihadapi dengan emosi yang salah, sudah pasti akan terjadi konflik di antara anggota kelompok.



DAFTAR REFERENSI

Goleman, D. (1999). Kecerdasan Emosional. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Lilliard, A. S. (2005). Montessori : The Science Behind The Genius. New York: Oxford University Press.
Maas, Linda T. (2004). Peranan Dinamika Kelompok dalam Meningkatkan Efektifitas Kerja Tim. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatra Utara.
NadhirinA. (2009). Apa sih kecerdasan emosional itu?. Diakses tanggal 25 Mei 2010, dari http://nadhirin.blogspot.com/2009/06/apa-sih-kecerdasan-emosional-itu.html
Tirta. (2009). Apa Itu IQ. Diakses tanggal 1 Mei 2010, dari http://individusosial.com/2009/02/apa-itu-iq-bagian-2.html

Proposal Penelitian Membaca 3

Kemampuan Membaca Cepat Mahasiswa PBSID Angkatan 2009 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta


       I.         Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Membaca merupakan proses memperoleh informasi atau wawasan dari buku atau apapun yang bisa dibaca. Karena itulah kegiatan membaca merupakan hal yang paling penting dan mendasar dalam kegiatan belajar. Dalam kaitannya dengan ketrampilan berbahasa, membaca merupakan sebuah proses linguistik. Supaya bisa membaca dengan baik, pembaca harus menguasai aspek-aspek bahasa dan kebahasaan, seperti sintaksis dan semantik, juga memiliki pengetahuan tentang huruf dan kesadaran tentang aspek-aspek tertentu dari struktur linguistik. Perkembangan membaca dalam bahasa yang alfabetis berkaitan erat dengan kesadaran linguistik, dan merupakan hal yang utama dalam penguasaan ketrampilan membaca. Perkembangan membaca memiliki korelasi yang tinggi dengan ejaan dan kemampuan untuk menyandikan kata-kata dalam bentuk ortografinya yang benar. Oleh karena itu membaca sangatlah dibutuhkan dalam kegiatan belajar.
Kemampuan membaca yang tinggi sangat dibutuhkan dalam jenjang pendidikan perguruan tinggi. Banyaknya buku-buku acuan yang diberikan oleh dosen untuk menyampaikan materi pelajaran, memaksa mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan membaca mereka supaya lebih efektif dalam kegiatan belajar. Walaupun buku-buku acuan tersebut bertujuan supaya mahasiswa dapat belajar dengan baik, tidak semua buku acuan dapat dicerna dengan baik oleh mahasiswa. Apalagi dengan bahan bacaan di luar lingkup belajar yang banyak tersedia dan berisi informasi-informasi serta konten-konten yang menarik bagi mahasiswa, sehingga mahasiswa diharuskan bisa merencanakan aktivitas membacanya dengan baik.
Kegiatan membaca di perguruan tinggi berbeda dengan pengajaran membaca pada jenjang-jenjang pendidikan yang ada di bawahnya. Di sini, tujuan utama membaca adalah mendukung mahasiswa untuk menyesuaikan kegiatan membacanya dalam mencari, menggali ilmu pengetahuan, dan menumbuhkan sikap ilmiah. Materi-materi pada tiap mata kuliah memberikan berbagai tanggapan dan tuntutan yang berbeda terhadap kemampuan membaca seorang mahasiswa. Banyaknya materi dan buku yang harus dibaca, membuat mahasiswa kesulitan dalam untuk menentukan bacaan mana yang terlebih dulu harus ia baca. Akan menyulitkan apabila mahasiswa tidak menguasai dan merencanakan aktivitas membacanya dengan efektif, terutama dalam memenuhi tuntutan pemahaman dari materi bacaan yang khusus dalam mata kuliah.
Dengan berbagai tuntutan yang ada, mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi harus dapat merencanakan aktivitas membacanya dan menguasai kebiasaan-kebiasaan belajar yang efektif, sehingga ketrampilan membaca benar-benar dapat diterapkan dalam dunia kerjanya. Perguruan tinggi memainkan peranan yang sangat penting di dalam peningkatan kemampuan membaca seorang mahasiswa. Pengajaran kemampuan membaca di perguruan tinggi mencapai puncaknya bagi mahasiswa, yang kemudian dipergunakan sebagai bekal ketrampilan dan kemampuan membaca untuk menghadapi dunia kerja, terutama bagi mahasiswa keguruan, yang terlibat dalam dunia pendidikan.
Pada zaman modern ini, sumber informasi sangatlah beragam. Para mahasiswa pun diharuskan untuk memiliki ketrampilan mencari informasi secara cepat dan tepat. Di sinilah ketrampilan membaca cepat dibutuhkan. Ketrampilan membaca sesungguhnya bukan hanya kemampuan menafsirkan lambang tertulis, namun yang lebih tepat adalah memahami apa yang tertulis secara cepat dan tepat. Membaca cepat bukan tentang membaca habis sebuah buku dalam waktu sesingkat-singkatnya, melainkan bagaimana kita dapat mencerna informasi yang ingin ditunjukkan oleh buku dan mengemasnya dengan baik dalam pikiran.
Kemampuan membaca cepat bukanlah suatu bakat, melainkan hasil dari latihan yang lama dan teratur kemudian menerapkannya sebagai suatu kebiasaan. Para mahasiswa diwajibkan untuk membaca banyak buku dan mencerna banyak informasi. Hal ini secara tidak langsung melatih kemampuan mahasiswa dalam mencari informasi yang ada dalam buku, oleh karena banyaknya buku yang harus dibaca. Mahasiswa memilih bahan bacaan mana yang harus dibaca terlebih dahulu dan mana yang tidak perlu dibaca. Manfaatnya sangat berguna bagi mahasiswa, yaitu dapat menghemat waktu, memiliki nilai yang menghibur, memperluas cakrawala mental, membantu berbicara efektif, membantu dalam menghadapi ujian, meningkatkan pemahaman, menjamin untuk selalu mutakhir, mencari informasi yang dibutuhkan dari bacaan secara cepat dan efektif, dapat menelusuri sebuah bacaan secara cepat dan efektif dalam waktu singkat (Soedarso, 2004).


1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah kemampuan membaca cepat pada mahasiswa prodi PBSID USD angkatan 2009?
2.      Bagaimana tingkat pemahaman teks bacaan pada mahasiswa prodi PBSID USD angkatan 2009?
1.3  Tujuan
1.      Mengetahui bagaimana kemampuan membaca cepat pada mahasiswa.
2.      Mengetahui bagaimana kemampuan mahasiswa dalam memahami teks bacaan.


    II.            Kajian Pustaka
2.1  Membaca di Perguruan tinggi
Pengajaran membaca sangatlah berperan dalam kegiatan perkuliahan mahasiswa. Dalam setiap kegiatan belajar, mahasiswa sudah dapat menentukan sendiri materi belajar mana yang perlu dia baca. Setiap mahasiswa tentunya juga memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dalam mencari materi-materi perkuliahan. Oleh karena itu, pengajaran membaca haruslah sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dalam mencari teks bacaan dan metode membaca haruslah menyesuaikan dengan karakteristik dan minat baca mahasiswa.
Di perguruan tinggi dituntut untuk lebih meningkatkan disiplin pribadi dan memimpin dirinya dalam berbuat supaya dapat menyelesaikan studi dengan batas waktu yang telah ditentukan. Di samping itu mereka harus dapat memanfaatkan waktu seefisien dan seefektif mungkin dalam belajar, membaca, dan menyelesaikan tugas lainnya (Sujaya, 1989:193). Dengan keterbatasan waktu dan banyaknya tugas yang diberikan kepada mahasiswa, sangatlah diperlukan kemampuan membaca yang baik dan efisien dalam belajar. Kemampuan membaca tersebut dapat ditingkatkan dengan beberapa teknik membaca cepat yang bisa membantu dalam kegiatan membaca mahasiswa.
Dalam membaca cepat, ada beberapa teknik yang dapat diterapkan. Teknik yang paling efektif dipakai oleh mahasiswa adalah teknik skimming dan scanning. Teknik skimming dan scanning ini sesuai digunakan untuk pembacaan bahan yang ringkas seperti sesuatu petikan maupun bahan bacaan yang lebih panjang seperti buku, jurnal dan majalah. Dalam pembacaan sesuatu petikan, kita hanya memberi perhatian kepada ide penting setiap bagian untuk mendapat gambaram umum. Ide-ide khusus sengaja diabaikan. Dalam pembacaan sebuah buku pula, fokus kita diberikan  kepada bagian tertentu di dalam buku itu seperti pengenalan, prakata, isi kandungan, tajuk utama, rumusan pada akhir bab dan rujukan indeks untuk mendapat gambaran umum tentang perkara yang dibaca.
Untuk mengidentifikasi ide pokok sebuah teks, dapat menggunakan teknik skimming. Skimming juga digunakan untuk mencari informasi khusus pada sebuah teks, dan melihat apakah teks tersebut adalah teks yang kita cari atau bukan secara sekilas.. Untuk seterusnya, jika kita sudah menentukan teks yang tepat, dapat digunakan teknik scanning. Scanning ialah pembacaan cepat untuk mendapat maklumat yang khusus dan bukan untuk mendapat gambaran keseluruhan sesuatu bahan bacaan. Pembacaan cara ini boleh melangkahi bagian-bagian tertentu yang dipandang kurang penting. Ketika kita membaca, kita akan menggerakkan mata kita dari atas ke bawah dengan bacaan yang dibaca sambil memberi perhatian pada maklumat yang dicari. Karena itu, pembacaan dengan metode ini lebih cepat daripada pembacaan cara skimming. Dalam konteks pembelajaran, skimming dan scanning boleh digunakan bersama. Biasanya, kita bisa membaca cara skimming untuk menentukan kesesuaian sesuatu bahan bacaan. Jika bahan berkenaan itu didapati sesuai maka kita boleh menggunakan teknik scanning untuk mendapatkan maklumat khusus yang dicari.
Kekhususan penelitian ini adalah pada bagaimana memanfaatkan teknik membaca untuk meningkatkan kemampuan membaca mahasiswa. Materi yang banyak pada setiap pelajaran dapat dibuat lebih efektif dengan menggunakan teknik skimming dan scanning. Dengan teknik ini, siswa dapat lebih bebas mencari materi yang mahasiswa butuhkan tanpa harus terpaku dengan materi lain yang terkait. Selain lebih efektif, proses belajar mahasiswa pun akan lebih baik.

2.2  Membaca dan Materi Perkuliahan
Dalam penelitian ini, ketrampilan yang dikedepankan adalah ketrampilan membaca. Pada kegiatan belajar di perguruan tinggi, mahasiswa diharuskan untuk mandiri dalam mengelola materi perkuliahan. Materi ini banyak diperoleh dari buku teks yang diberikan atau dianjurkan dalam silabus. Banyaknya mata perkuliahan yang harus dilalui mahasiswa menambah banyak pula jumlah buku teks yang harus dibaca. Dalam pengajaran membaca, dosen sering menjumpai mahasiswa yang kesulitan dalam menemukan topik mana yang harus ia baca. Tarigan (1987) dalam bukunya yang berjudul “Membaca Sebagai Ketrampilan Berbahasa” mengatakan bahwa melatih ketrampilan berbahasa berarti pula melatih ketrampilan berpikir.
Kegiatan membaca mahasiswa berkaitan erat dengan kegiatan belajarnya. Supaya kegiatan membaca ini memberi pengaruh positif pada mahasiswa, perlu diterapkan beberapa teknik supaya kegiatan membaca bisa efektif. Teknik yang kompatibel untuk situasi perkuliahan adalah teknik skimming dan scanning. Dalam penelitian ini dapat dilihat bagaimana teknik skimming dan scanning berperan dalam kegiatan belajar mahasiswa dalam memilih materi-materi belajar yang akan mereka pelajari. Teknik skimming dan scanning, jika melampaui batas-batas tertentu, bisa memberi efek merugikan terhadap pemahaman. Kita tidak bisa sembarangan menggunakan teknik skimming dan scanning, karena pada dasarnya teknik tersebut membutuhkan kemampuan membaca cepat yang baik.
Kemampuan membaca dapat ditingkatkan dengan menguasai teknik-teknik membaca yang efektif. Masalah yang sering terjadi dalam pengajaran membaca antara lain kebiasaan membaca tertentu, gerakan-gerakan mata, minat baca, serta motivasi. Dalam teknik-teknik membaca cepat, dibutuhkan juga kemampuan pemahaman teks bacaan yang cepat pula. Pembaca yang efektif dan efisien mempunyai kecepatan membaca yang berbeda-beda pada setiap teks bacaan. Pembaca yang efektif haruslah sadar akan berbagai tujuan, tingkat kesulitan bahan bacaan, serta keperluan membaca yang dibutuhkan. Sehingga teknik-teknik membaca cepat tidak selamanya harus dilakukan dengan membaca secara cepat. Kadang ada juga teks bacaan yang sengaja harus dibaca pelan supaya topik atau isi bacaan dapat benar-benar dipahami. Kesadaran itulah yang harus dimiliki seorang pembaca supaya pemahaman terhadap isi bacaan dapat ditingkatkan.
Kualitas pemahaman terhadap materi bacaan dapat dilakukan dengan 3 cara. (1) menambah materi bacaan dengan tema yang lebih luas dan beragam, (2) lebih banyak berdiskusi, sehingga kemampuan pemahaman terhadap suatu masalah dapat diukur dan diketahui, (3) meningkatkan pemahaman melalui tes-tes membaca,agar dapat dirasakan efek-efek dari mengerjakan tes tersebut (Wainwright Gordon, 2007).

2.3  Kerangka Berpikir
Membaca merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari proses belajar. Terutama bagi mahasiswa, karena membaca merupakan kegiatan yang utama dalam semua kegiatan perkuliahan. Namun, dengan banyaknya mata kuliah yang ada, dikhawatirkan mahasiswa kebingungan dalam membaca buku teks untuk acuan belajar. Banyaknya materi perkuliahan juga menyulitkan mahasiswa untuk membaca bagian mana yang harus dipelajari. Jika hal ini dibiarkan, mahasiswa bisa mengalami penurunan prestasi belajar.
Karena itu, mahasiswa perlu meningkatkan kemampuan membaca cepat mereka dalam membaca buku teks dan bahan bacaan yang ada. Jika mahasiswa sudah dapat mengatur kegiatan membaca mereka menjadi lebih baik, maka akan berpengaruh besar terhadap kegiatan belajarnya dan pemahamannya terhadap materi perkuliahan. Dengan beberapa teknik yang efektif, mahasiswa dapat menyempurnakan kemampuan membaca mereka, tentunya dengan latihan dan kegiatan membaca yang rutin.


III.    Metodologi Penelitian
3.1  Sumber Data Penelitian
Penelitian ini bertajuk pada kemampuan membaca cepat pada mahasiswa. Batasan sumber data penelitian diambil pada mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah (PBSID) angkatan 2009, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
3.2  Data Penelitian
Data yang diperlukan untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini adalah kemampuan membaca cepat mahasiswa PBSID 2009.
 Data penelitian diambil dari mahasiswa PBSID angkatan 2009, karena dekat dengan peneliti sehingga mudah mendapatkan akses untuk penelitian. Sengaja diambil dari angkatan 2009, karena mahasiswa pada semester 3 ini sudah mulai membiasakan diri dengan kegiatan membaca secara rutin. Walaupun sudah mulai terbiasa dengan kegiatan membaca yang rutin, mahasiswa PBSID angkatan 2009 masih mengalami kesulitan. Antara lain bagaimana cara memilih dan mencari teks materi untuk perkuliahan. Beberapa mahasiswa juga belum secara maksimal menggunakan teknik-teknik membaca cepat yang bisa mereka pergunakan.
Selain itu, mahasiswa PBSID angkatan 2009 mengkonsentrasikan studi mereka pada pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Banyak teks-teks mengenai kebahasaan terutama karya-karya sastra yang harus mereka baca. Sebagian besar berupa teks-teks karya sastra panjang yang membutuhkan waktu membaca yang lama dan pemahaman teks yang tinggi, namun terbatas pada waktu mereka yang sedikit, sehingga tidak jarang mahasiswa PBSID yang harus menggunakan teknik-teknik membaca cepat.

3.3  Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini merupakan penelitian untuk mengetahui kemampuan membaca cepat mahasiswa. Supaya data yang diperolah benar-benar sesuai dengan kemampuan mahasiswa yang sebenarnya, perlu dilakukan tes membaca cepat untuk mengumpulkan data penelitian. Tes ini dilakukan dalam dua bagian, yaitu dengan mengukur seberapa cepat kemampuan membaca mahasiswa dan mengisi pertanyaan uraian yang berkenaan dengan bacaan dalam tes. Tes berikut dimaksudkan supaya tidak hanya seberapa cepat kemampuan membaca mahasiswa diketahui, tetapi juga seberapa pemahaman yang dapat diserap mahasiswa dari bacaan dalam tes.
3.4  Instrumen Penelitian
A.       Menyusun kisi-kisi tes membaca cepat.
Untuk mengukur kemampuan membaca cepat, diperlukan tes membaca cepat. Adapun teks bacaan untuk tes membaca yang dilakukan sebagai berikut :

Biografi Gus Dur
Secara genetis KH Abdurrahman Wahid merupakan keturunan darah biru. Darah biru bukan dalam arti kebangsawanan, melainkan bekal dari Allah Subhanahu Wataala berupa kecerdasan luar biasa.
Dia anak seorang tokoh besar umat Islam, khususnya NU. Ayahnya, KH Wahid Hasyim, anak pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia, bernama Hasyim Asy'ari. Ibunya, Hajjah Sholehah, juga keturunan tokoh besar NU, KH Bisri Sansuri.
Ayahnya menjadi menteri agama pertama Indonesia. Dengan demikian, baik dari garis ayah maupun ibu, Gus Dur merupakan sosok yang menempati strata sosial tinggi dalam masyarakat Indonesia. Namun, sejarah kehidupannya tak mencerminkan kehidupan seorang ningrat. Dia berproses dan hidup sebagaimana layaknya masyarakat kebanyakan. Gus Dur kecil belajar di pesantren. Dia diajar mengaji dan membaca Al Quran oleh kakeknya, Hasyim Asy'ari, di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jatim.
Panggilan "Gus'' merupakan tradisi di kalangan pesantren untuk menyebut atau memanggil anak kiai. Di beberapa daerah Jawa Barat, sebutan Gus diganti "Kang'' atau "Ning''. Karena namanya Abdurrahman Wahid, dia lebih populer dipanggil Gus Dur. Sama dengan orang memanggil Gus Baqoh, Gus Nadzif, Gus Munif, Gus Mik, dan lain-lain.
Al-Zastrouw dalam buku Gus Dur Siapa Sih Sampeyan menulis, pada tahun 1949, ketika clash dengan Pemerintah Kolonial Belanda berakhir, dan ayahnya diangkat sebagai menteri agama,keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Gus Dur menyelesaikan sekolahnya di Jakarta. Untuk menambah pengetahuan dan melengkapi pendidikan formal, ia dikirim ayahnya mengikuti les privat bahasa Belanda. Dia menempuh pendidikan itu dengan naik sepeda.
Guru lesnya bernama Willem Buhl, seorang Jerman yang telah masuk Islam dan mengganti namanya dengan Iskandar. Untuk menambah pelajaran bahasa Belanda, Buhl selalu menyajikan musik klasik Barat yang biasa dinikmati orang dewasa. Itulah kali pertama persentuhan Gus Dur kecil dengan budaya Barat.
Menjelang lulus SD, dia memenangi lomba karya tulis dan menerima hadiah dari Pemerintah. Pada april 1953, beberapa bulan sebelum kelulusan, dia pergi bersama ayahnya mengendarai mobil ke daerah Jawa Barat untuk meresmikan madrasah baru. Di suatu tempat di sepanjang pegunungan antara Cimahi dan Bandung, mobil yang dikendarai mengalami kecelakaan.
Gus Dur terselamatkan, tetapi ayahnya meninggal dunia. Kematian Wahid Hasyim merupakan pukulan berat bagi keluarganya. Ibu Gus Dur Dur, Ny Sholehah, saat itu mengandung tiga bulan dan menanggung lima anak.

Ingin Jadi ABRI
Mungkin tak pernah dibayangkan Gus Dur saat kanak-kanak, remaja, bahkan setelah menjadi Ketua Umum PBNU selama tiga periode. Ketika kecil dia sebenarnya ingin menjadi ABRI. Namun, karena sejak umur 14 tahun dia harus mengenakan kacamata minus, cita-cita itu kandas. Kendati harus berkacamata, Gus Dur justru tekun membaca buku. Berbagai buku dibacanya. Selain itu, ia sangat menyukai sepakbola, seni, catur, bahkan nonton film.
Ketika sekolah di SMEP di Yogyakarta, nilainya jeblok, bahkan tinggal kelas. Ini karena ia terlalu menggandrungi banyak hal, terutama buku dan bioskop.
Kesenangannya pada buku membuat kawan-kawannya sesama santri kaget. Sebab, Gus Dur telah melahap buku-buku seperti filsafat Plato, Das Kapital karya Karl Marx, karya Thalles, novel-novel William Bochner, dan masih banyak lagi. Tidak banyak anak sebayanya yang saat itu mempunyai kegemaran seperti Gus Dur.
Pertama di Yogyakarta dia tinggal di Pesantren Krapyak. Namun tidak betah dan merasa terkekang. Atas bantuan ibunya, dia memilih kos di rumah Haji Junaedi, seorang pemimpin lokal Muhammadiyah. Di tempat itu dia kerasan.
Sebagai anak kiai, tentu saja ia sangat menekuni ilmu agama. Hal ini sangat cocok dengan cita-cita ibunya yang menginginkan sang anak mewarisi kakek dan ayahnya untuk mengembangkan pesantren dan ilmu agama secara luas.
Gus Dur muda adalah sosok yang sangat rajin belajar, apa saja. Saat menimba ilmu di pesantren, dia tidak mau terkungkung oleh budaya di sana, tetapi ingin lebih banyak lagi memperoleh ilmu. Hal itu terbukti saat tiga tahun menjadi santri di Pesantren Tegalrejo Magelang asuhan KH Chudlori, Gus Dur masih ingin menambah ilmu dari pesantren lain seperti Pesantren Denanyar Jombang asuhan kakeknya, KH Bisri Syanusi.
Selama di pesantren itu, ia banyak menghabiskan waktunya dengan menimba ilmu dari para gurunya. Waktunya benar-benar dimanfaatkan untuk memperoleh sebanyak mungkin ilmu di sana. Pagi-pagi buta telah mengaji tiga kitab dengan seorang kiai pengasuh pesantren, seperti KH Fatah. Siang gantian dia mengajari para santri. Sehabis salat zuhur melanjutkan kembali menimba ilmu kepada kiai lain, seperti KH Masduki, kemudian mengaji kitab lain lagi dengan ustad sang kakek, KH Bisri Syansuri.
Ketekunan dan kegigihan yang luar biasa membuatnya banyak berbeda dari santri lain. Bahkan pada usia yang masih relatif muda, Gus Dur telah fasih dalam penguasaaan gramatika bahasa Arab.
Diambil dari : themovied.blogspot.com
.


Tes membaca cepat ini selain menilai kemampuan membaca mahasiswa dari kecepatan membaca, juga menilai seberapa pemahaman mahasiswa tentang bacaan dalam tes. Oleh karena itu ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian tes : (a) aspek waktu yang dibutuhkan, dan (b) aspek pemahaman terhadap isi bacaan.
a.         Aspek waktu yang dibutuhkan
Bacaan di atas merupakan biografi. Tingkat kesulitan bacaan tidak terlalu tinggi, berbentuk deskriptif, dan merupakan bacaan nonfiksi yang bersifat informatif. Bacaan di atas dapat dibaca secara cepat dengan kecepatan ideal 350-500 kata per menit. Jika mahasiswa belum mencapai kecepatan minimal 350 kata per menit, maka mahasiswa belum dapat membaca dengan efisien.
Untuk menghitung kecepatan membaca, dapat digunakan rumus dasar berikut:
Jumlah kata yang dibaca  x 60 = jumlah kpm (kata per menit)
Jumlah detik untuk dibaca

b.        Aspek pemahaman terhadap isi bacaan
Pemahaman mahasiswa terhadap isi bacaan dapat diukur dengan memberi soal-soal uraian terkait dengan poin-poin penting yang terdapat dalam bacaan. Jumlah soal ada 10, dengan skor masing-masing 1. Untuk mencapai tingkat pemahaman minimal, mahasiswa harus mencapai nilai 7 atau dengan kata lain pemahaman terhadap bacaan tersebut minimal sebesar 70%.

B.       Soal uraian
Soal uraian untuk tes membaca cepat adalah sebagai berikut :
1.    KH. Abdurrahman Wahid mempunyai keturunan darah biru. Apa arti darah biru tersebut?
2.    Siapakah ayah dan ibu dari KH. Abdurrahman Wahid?
3.    Di mana dan dengan siapa Gus Dur kecil belajar?
4.    Mengapa KH. Abdurrahman Wahid mendapatkan panggilan “Gus”?
5.    Siapa nama guru les Gus Dur? Apa yang dilakukan guru lesnya untuk menambah pengetahuannya dalam berbahasa Belanda?
6.    Di mana dan di bawah asuhan siapa Gus Dur muda menimba ilmu?
7.    Apa cita-cita Gus Dur saat kecil? Mengapa cita-citanya tersebut tidak dapat terwujud?
8.    Buku-buku apa saja yang menjadi kesenangan Gus Dur saat muda?
9.    Mengapa Gus Dur muda sempat tinggal kelas?
10.                        Kegiatan apa saja yang dilakukan Gus Dur muda saat belajar di pesantren?


3.5  Teknik Analisis Data
A.  Menilai hasil tes membaca cepat siswa
Untuk menghitung kecepatan membaca, dapat digunakan rumus dasar berikut:
Jumlah kata yang dibaca  x 60 = jumlah kpm (kata per menit)
Jumlah detik yang dibutuhkan

Jumlah kata dalam bacaan di atas adalah 709 kata. Jadi rumus di atas dapat dituliskan sebagai berikut :
709    kata                                  x 60 = jumlah kpm (kata per menit)
Jumlah detik yang dibutuhkan

B.  Menilai hasil soal uraian
Terdapat 10 soal uraian berkait tentang bacaan. Setiap soal diberi skor 1 poin. Poin maksimal adalah 10. Ketuntasan minimalnya adalah 7 poin. Jika belum mencapai nilai 7 maka dianggap belum dapat memahami bacaan dengan baik.
C.  Mengukur berdasarkan kriteria yang ditentukan
Untuk tes membaca cepat kriteria yang ditentukan adalah minimal mampu mencapai kecepatan membaca 350 kata per menit. Sedangkan dalam menjawab soal uraian minimal harus mendapat nilai 7 atau pemahaman minimal 70%.


DAFTAR PUSTAKA
Soedarso. 1988. Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Tampubolon, D.P. 1990. Kemampuan Membaca : Teknik Membaca Efektif dan Efisien.  Bandung : Angkasa.
Tarigan, Henry Guntur. 1983. Membaca Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.
themovied.blogspot.com
Wainwright, Gordon. 2007. Speed Reading Better Recalling. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Wiryodijoyo, Suwaryono. 1989. Membaca : Strategi Pengantar dan Tekniknya. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.