Sabtu, 20 November 2010

sastra sebagai seni

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Sastra, khususnya sastra Indonesia, sering diidentikkan dengan seni dalam tulis menulis oleh masyarakat awam. Hal ini tidak sepenuhnya salah, karena sebuah karya sastra terdapat banyak aspek yang mendukung sebuah kesenian.
Berbicara tentang seni, tidak dapat dilepaskan dari estetika. Seni memang tidak dapat dipisahkan dari sebuah keindahan. Walaupun sebuah seni itu belum tentu indah, namun setiap karya seni itu sedikit banyak memiliki estetika di mata sebagian orang. Keindahan ada di mana-mana. Di setiap pemandangan alam terdapat keindahan. Bahkan setiap benda sedikit banyak menyiratkan keindahan, walaupun sedikit.
Keindahan dapat ditangkap oleh setiap indera manusia. Dengan indera itulah, manusia menikmati setiap keindahan yang ada. Khususnya karya sastra, manusia dapat merasakan keindahan dari tulisan-tulisan yang mencerminkan pemikiran dari sang penulis.

B.     Rumusan Permasalahan
Mengapa sastra bisa disebut sebagai seni?


C.     Tujuan Penulisan
Mengerti bagaimana sastra sebagai seni disikapi dan dimengerti









BAB II
SASTRA SEBAGAI SENI
Masyarakat awam seringkali menganggap karya sastra sebagai sebuah seni. Hal ini benar adanya. Seni selalu berhubungan dengan keindahan. Menurut kamus Webster, seni adalah  disposisi (pengaturan) maupun modifikasi sesuatu berkat ketrampilan manusia, sesuai dengan yang dimaksud. Dalam arti ini, seni dihubungkan dengan alam. Seni juga disebut karya kreatif yang memiliki bentuk & keindahan: seni lukis, patung, arsitektur, musik, sastra, drama, tari, dan sebagainya. Istilah seni digunakan dalam cabang tertentu, seperti sastra dan musik. Dalam hal ini, seni dihubungkan dengan ilmu pengetahuan.
Keindahan merupakan apapun yang bersifat khusus, yang memberikan kepuasan pada indera manusia. Bisa juga memberikan keindahan pada pemikiran dan batin manusia. Keindahan dapat diserap oleh setiap indera manusia. Seperti indera penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan pencecap.
Menurut Jack Marritain, proses penghayatan estetis bersumber pada persepsi alamiah-faktual lewat daya-daya indera. Dalam pengalaman estetis, perbedaan antara subyek (yang mengamati alam) dan obyek (alam) seolah hilang. Subjek seolah luluh dengan alam sekitar, subjek juga merasa terangkat melihat alam sekitar, dan merasa lebih kecil. Terjadi semacam interpenetrasi (saling menerobos) antara alam dan manusia. Kedua belah pihak saling luluh tanpa kehilangan identitasnya masing-masing. Manusia yang merasakan getaran keindahan alam mengadakan semacam identifikasi spiritual dengan alam itu, bahkan alam memasuki kalbunya. Sebaliknya manusia memasuki alam (Maritain). Para ahli menganalisa pengalaman tentang keindahan timbul dari perjumpaan dengan alam.
Para ahli menganalisa pengalaman tentang keindahan timbul dari perjumpaan dengan alam. Monroe C. Beardsley mengungkapkan bahwa pengalaman estetis menentramkan dan menggembirakan manusia. Plotinos mendekatkan pengalaman estetis dengan pengalaman religius, bahkan puncak perkembangan estetis itu sendiri adalah pengalaman religius yang disebut pengalaman mistik. Cuplikan kisah Affandi melukis di pantai Bali, memberi contoh inspirasi seni dan pengalaman estetis, atau hubungan antara alam dengan seni. Edgard Allan  Poe mengatakan, sastra berfungsi sekaligus mengajarkan sesuatu. Horatius menyatakan bahwa puisi itu indah dan berguna, dulce et utile.
Seni yang mampu mengungkapkan refleksi pribadi itu memberikan rasa senang. Pengalaman mengikuti artikulasi itu memberikan rasa lega. Kedua segi itu harus saling mengisi. Kesenangan dari sastra bukan hanya kesenangan fisik, melainkan kesenangan yang lebih tinggi, yaitu kesenangan batin, kontemplasi yang tidak mencari keuntungan. Akhir-akhir ini ada pembahasan yang ingin membuktikan bahwa manfaat sastra terletak pada segi pengetahuan yang disampaikannya. Sastra ingin diteliti apakah memberikan pengetahuan dan filsafat bagi penikmatnya. Salah satu nilai kognitif drama dan novel adalah segi psikologisnya. Fungsi sastra, menurut sejumlah teoritikus, adalah untuk membebaskan pembaca maupun penulisnya dari tekanan emosi. Mengekspresikan emosi berarti melepaskan diri dari emosi itu. Banyak karya sastra ditulis berdasarkan pengalaman maupun pemikiran mendasar dari penulis.


BAB III
PENGERTIAN SENI

Seni sebagai kegiatan rohani manusia yang merefleksi realitas dalam suatu karya yang berkat dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani si penerimanya (Akhdiat Karta Miharja, 1961: 17). Susanne Langer mendefinisikan seni sebagai kreasi bentuk simbolis dari perasaan manusia (Sudiarja, 1982: 74).
Seni merupakan kreasi (pengadaan sesuatu yang tadinya belum ada). Bentuk simbolis dipertentangkan dengan isi atau materi dari simbol. Sebagai bentuk simbolis, seni sudah mengalami transformasi. Seni merupakan sifat umum dari pengalaman. Seniman dalam menciptakan seni sudah merenungkan dan merasakan pengalaman langsung dan membuatnya menjadi suatu pengalaman umum, yang bisa diserap oleh orang lain.
Menurut  Langer, seni menghasilkan sesuatu yang lain sama sekali dari realitas alamiah. Karya seni meskipun identik dengan alam, namun sudah terlepas dari kenyataan alamiah. Pada seni terdapat kelainan dari alam. Karya seni berdiri sendiri sebagai sebuah ciptaan.


BAB IV
KEDUDUKAN SENI
Manusia terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Manusia juga mempunyai kebutuhan yang sifatnya jasmani dan rohani. Segala kegiatan yang bersifat fisik digunakan untuk pemenuhan kebutuhan jasmani. Bidang rohani adalah yang bersifat pemenuhan jiwa. Pendidikan sebagian bersifat jasmani, yaitu pengajarannya, sedang penanaman nilai dan moral bersifat rohani. Bidang-bidang jasmani memerlukan efisiensi dalam penerapannya secara konkret. Di dalam hidup ada hal-hal yang tidak praktis dan tidak efisien, tetapi sangat diperlukan, misalnya berumah tangga, bersahabat, ibadah, dan sebagainya.
Aspek rohani dan jasmani sama-sama penting. Tanpa roh, manusia hanya jasad saja, tanpa jasmani manusia menjadi hampa. Kesenian adalah urusan roh. Keduanya tidak praktis dan tidak efisien. Manusia tidak akan mati tanpa seni, dan kesehatannya akan tetap normal. Tetapi tanpa seni dan sastra, masyarakat akan miskin rohaninya. Dalam kehidupan suatu bangsa, kebanggaan yang dihasilkan oleh penyair dan sastrawan sering lebih panjang umurnya dibandingkan prestise sosial, politik, dan ekonomi.
Para penyair dan dramawan sangat fungsional dalam masyarakat. Mereka punya kedudukan sebagai orang yang memberikan penerangan tentang kehidupan, baik sosial, politik, maupun kehidupan personal. Dalam masyarakat sekarang, kebutuhan akan agama, filsafat dan seni disederhanakan menjadi kebutuhan akan hiburan. Dalam alam industri dan teknologi modern, kesenian beralih-fungsi menjadi hiburan untuk komersial. Misalnya, konser-konser musik, pertunjukan drama, dan masih banyak lagi.
Roh tidak bisa mati hanya karena industri dan teknologi. Kesenian dan filsafat tidak bisa muncul dari satu bangsa, selalu saja muncul seniman-seniman yang menjelma menjadi terkenal tanpa mengkompromikan seninya menjadi hiburan. Kesenian yang unggul tetap muncul dan dihargai bagi penikmatnya.






BAB V
KESIMPULAN
Keindahan merupakan apapun yang bersifat khusus, yang memberikan kepuasan pada indera manusia. Seni memang tidak dapat dipisahkan dari sebuah keindahan. Proses penghayatan estetis bersumber pada persepsi alamiah-faktual lewat daya-daya indera. Seni juga dapat sebagai kegiatan rohani manusia yang merefleksi realitas dalam suatu karya yang berkat dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani si penerimanya. Menurut  Langer, seni menghasilkan sesuatu yang lain sama sekali dari realitas alamiah. Karya seni meskipun identik dengan alam, namun sudah terlepas dari kenyataan alamiah. Pada seni terdapat kelainan dari alam. Karya seni berdiri sendiri sebagai sebuah ciptaan.
Sastra tanpa seni tidaklah menarik. Jika sastra tanpa seni, karya sastra itu hampa tanpa ekspresi, seakan-akan hanya narasi yang bersifat informatif. Seni dalam sastra itulah yang menjadi kelebihan dan alasan mengapa sastra diminati dan digemari masyarakat luas. Sebab pada hakikatnya sastra menyiratkan keindahan, dimana keindahan tersebut merupakan unsur utama dari seni.