Jumat, 08 Oktober 2010

Makalah Presentasi Pengkajian dan Apresiasi Drama


Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah
Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan
Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta
2010
oleh :

Yohanes Marwan S. 
Agatha Wahyu Wigati
Satya Adi Wulansari

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Drama sebagai sebuah karya seni, barulah memenuhi syarat juka dipentaskan. Dalam arti, cakapan atau dialog harus benar-benar dilakukan oleh aktor yang memerankan tokoh masing-masing. Cakapan juga harus disertai dengan gerak-gerikdari masing-masing aktor, dan gerak-gerik tersebut harus sesuai dengan tokoh yang dimainkannya. Di dalam pementasan drama, penanggung jawab dan pengelola seluruh aktivitas pementasan disebut “produser”, sedangkan penanggung jawab dari nilai artistik adalah “sutradara”.
Teks drama perlu dipahami dengan baik dan benar sebelum dipentaskan, supaya tokoh-tokoh di dalamnya dapat diperankan dengan baik. Teks drama adalah karangan atau tulisan yang berisi nama-nama tokoh, dialog yang diucapkan, latar panggung yang dibutuhkan, dan pelengkap lainnya (Kostum, lighting, dan musik pengiring). Untuk membaca karya sastra dalam bentuk drama, diperlukan daya bayang kuat, karena sifat-sifat tokohnya dan keadaan di dalamnya hanya digambarkan melalui cakapan atau dialog. Keterangan tentang tempat, gerak gerik pelaku,dan suasana hati hanya dijelaskan secara singkat di dalam tanda kurung dan tidak termasuk dalam cakapan. Keterangan lain dalam drama dapat dijelaskan dengan media latar atau setting. Latar dalam drama terdiri dari latar tempat, waktu, dan suasana. Penataan latar yang tepat akan dapat menunjang pementasan drama tersebut, menguatkan karakter tokoh, dan membuat pementasan drama semakin menarik.
Salah satu hal yang menjadi patokan utama dari sebuah pementasan maupun teks drama adalah tema. Tema drama menunjuk pada suatu dasar pemikiran yang ingin disampaikan sang penulis naskah drama. Tema bersifat umum dan terkait dengan nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan sehari-hari. Tema drama tidak disampaikan secara eksplisit. Untuk dapat menemukan tema, kita harus menyimak terlebih dahulu keseluruhan dialog antarpelaku dan dialog yang ditampilkan, baru dapat diambil kesimpulan.
Mempertanyakan makna dari sebuah drama, sama saja mempertanyakan tema. Setiap karya drama mengandung dan menawarkan tema, namun isi dari tema tersebut tidak secara gamblang ditunjukkan. Usaha untuk mendefinisikan tema juga tidaklah mudah. Masalah itulah yang sering kita jumpai terhadap persoalan tema, baik untuk menjelaskan pengertian tema, maupun untuk mendeskripsikan pernyataan tema yang terkandung dalam sebuah drama.

B.     Rumusan Permasalahan
Apa hakikat dari tema itu?
Bagaimanakah hubungan tema dengan unsur drama yang lain?



BAB II
HAKIKAT TEMA

Dalam buku “Terampil Bermain Drama”, tema adalah pikiran pokok yang mendasari lakon drama. Pikiran pokok ini dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi cerita yang menarik.
Menurut Hartoko dan Rahmanto (1986:142), tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan.
Tema merupakan makna cerita. Tema pada dasarnya adalah sejenis komentar terhadap pokok masalah baik secara eksplisit maupun implisit. Dalam tema terkandung sikap pengarang terhadap pokok cerita. Tema memiliki fungsi untuk menyatukan unsur-unsur lainnya. Tema juga berfungsi untuk melayani visi atau responsi pengarang terhadap pengalaman dan hubungan totalnya dengan jagad raya (Sayuti, 2000).
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan pengertian dari tema adalah pikiran pokok, gagasan dasar , atau makna cerita yang terkandung secara implisit terdapat pada suatu karya fiksi atau drama yang memiliki hubungan dengan unsur-unsur cerita yang lainnya.

BAB III
PENGGOLONGAN TEMA
Secara garis besar, tema dapat digolongkan menjadi tiga sudut pandang, yaitu penggolongan dikotomis yang bersifat tradisional dan non tradisional, penggolongan dari tingkat pengalaman jiwa menurut Shipley, dan penggolongan dari tingkat keutamaannya.
1.    Tema tradisional dan nontradisional
Tema tradisional adalah tema umum yang kerapkali dijumpai sama, telah lama dipergunakan, dan dapat ditemukan dalam berbagai cerita, termasuk dalam cerita lama. Tema yang bersifat tradisional dapat berupa pernyataan-pernyataan berikut : (a) kebenaran mengalahkan kejahatan, (b) kejahatan walau ditutupi akan terbongkar juga, (c) kejahatan akan mendapatkan balasannya, dan sebagainya. Tema-tema tradisional, walaupun bervariasi tetapi selalu berhubungan dengan dengan masalah kebenaran dan kejahatan (Meredith & Fitzgerald, 1972). Tema-tema tradisional biasanya digemari oleh banyak orang pada umumnya. Tema tradisional juga lebih mudah tersirat dan orang lebih mudah menangkap nilai moralnya. Cerita-cerita anak juga hampir semua memiliki tema tradisional, karena itu tema tradisional memiliki nilai edukasi yang baik bagi pengajaran drama kepada anak. Berbagai cerita yang bertema tradisional umumnya menceritakan pertentangan antara kebaikan dan kejahatan. Tema ini juga universal. Banyak karya-karya sastra di mancanegara mengusung cerita tentang kebenaran melawan kejahatan atau tema tradisional lain secara umum.
Contoh karya sastra bertema tradisional yang kerap dipentaskan: (a) cerita pewayangan, (b) Kisah Ramayana, (c) Sampek dan Engtay, (d) Romeo dan Juliet, dan sebagainya.
Selain tema tradisional, ada pula tema nontradisional. Tema ini bersifat tidak lazim, kadang tidak sesuai dengan bayangan dan harapan orang, bersifat melawan arus, mengecewakan, dan seringkali berlawanan dengan tema tradisional. Pada umumnya orang mengharapkan tokoh yang baik, atau semua yang digolongkan protagonis mengalami kemenangan dan akhir yang bahagia. Namun dalam tema nontradisional hal ini dapat berlaku sebaliknya, dimana tokoh protagonis dapat berakhir tragis.
2.    Tingkatan tema
Shipley (1962:417), mengartikan tema sebagai subjek wacana, topik umum, atau masalah utama yang dituangkan dalam cerita. Shipley membedakan tema berdasarkan tingkatan pengalaman jiwa. Kelima tema yang dimaksud adalah sebagai berikut.
Pertama, tema tingkat fisik. Tema pada tingkat ini lebih banyak menunjukkan kegiatan fisik daripada kejiwaan.
Kedua, tema tingkat organik. Tema ini lebih banyak menyangkut pada sisi seksualitas. Berbagai sersoalan kehidupan seksual manusia diangkat dalam tema ini, seperti perselingkuhan, penghianatan suami istri, dan lain-lain.
Ketiga, tema tingkat sosial. Tema ini mencakup permasalahan yang terjadi di dalam masyarakat. Masalah sosial yang dimaksud antara lain berupa masalah ekonomi, politik, pendidikan, kebudayaan, perjuangan, dan berbagai masalah dan hubungan sosial lainnya.
Keempat, tema tingkat egoik. Tema ini lebih menyoroti tanggapan individu terhadap masalah atau konflik, misalnya reaksi seseorang terhadap masalah sosial yang ada di sekitarnya.
Kelima, tema tingkat divine. Tema ini menonjolkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta, masalah religiusitas, dan berbagai pandangan filosofis lainnya.

3.    Tema utama dan tema tambahan
Tema merupakan makna dari cerita. Makna cerita dari sebuah drama mungkin saja dapat lebih dari satu. Hal ini yang menyebabkan sulitnya menentukan tema utama. Sehingga dapat dikatakan bahwa tema utama adalah makna pokok cerita yang menjadi dasar umum dari drama tersebut. Menentukan tema pokok dari sebuah teks drama merupakan aktivitas menilai, memilih, dan menafsirkan unsur-unsur yang ada dalam drama, seperti cakapan, latar, penokohan, dan sebagainya.
Sedangkan makna tambahan adalah makna yang hanya pada bagian-bagian tertentu saja. Makna-makna tambahan bukan merupakan sesuatu yang berdiri sendiri, terpisah dari pokok cerita yang bersangkutan. Makna-makna tambahan itu berifat mendukung dan mencerminkan makna utama. Jadi singkatnya, makna tambahan itu berfungsi untuk menegaskan eksistensi makna utama. Kita dapat mengidentifikasi tema utama secara akurat jika kita menyimak tema tambahan dari sebuah teks drama.

BAB IV
PENAFSIRAN TEMA
Penafsiran tema sebuah drama bukanlah hal yang mudah. Pada umumnya pernyataan tentang tema tersebut tidak secara eksplisit. Tema hadir berpadu dengan unsur-unsur struktural yang lain, sehingga dalam drama yang kita jumpai adalah cakapan, penokohan, dan sebagainya yang bisa dijadikan acuan untuk menentukan tema. Tema tersembunyi di balik cerita, maka dari itu penafsirannya haruslah berdasarkan fakta-fakta yang ada yang secara keseluruhan membangun drama itu.
Penemuan tema sebaiknya juga dengan melihat konflik-konflik apa yang terdapat dalam drama. Konflik yang merupakan salah satu unsur pokok dalam pengembangan ide cerita dan plot,pada umumnya berkaitan erat dengan tema. Dengan menemukan konflik utama dalam sebuah drama, paling tidak kita dapat menemukan gambaran umum mengenai tema yang diusung. Unsur tokoh dan penokohan, plot dan pemplotan, dan latar berhubungan erat dalam penentuan tema. Walaupun tidak secara langsung dan tak dapat secara sendiri memuat makna, unsur-unsur itu dapat memuat penafsiran tema.
Menurut Sayuti (2000), tema secara sederhana dapat ditafsirkan dengan cara-cara berikut :
1.      Penafsiran hendaknya mengedepankan detil cerita
2.      Penafsiran tema hendaknya tidak bertentangan dengan tiap detil cerita.
3.      Penafsiran tema hendaknya tidak mendasarkan diri pada buti-bukti yang tidak dinyatakan baik secara langsung maupun tidak langsung.
4.      Penafsiran tema haruslah mendasar pada bukti yang secara langsung atau diisyaratkan dalam cerita.

BAB V
TEMA DAN MORAL

Tema dalam sebuah cerita dipahami sebagai makna cerita yang mengikat seluruh unsur cerita hingga menjadi seluruh kesatuan yang padu. Berbagai unsur seperti alur, tokoh, latar, dan sebagainya secara sinergis berkaitan untuk mendukung eksistensi tema. Jika kita mempertanyakan tentang tema, secara tidak langsung akan tersirat moral cerita, amanat, dan pesan. Moral dalam drama dimaksudkan sebagai suatu saran kepada pemirsa supaya menangkap suatu pandangan dari penulis naskah drama lewat drama yang dipentaskan.
Aspek tema dan moral dalam cerita ada kalanya tumpang tindih, dalam arti pernyataan tema dalam cerita yang disuguhkan juga merupakan pesan moral, begitu juga sebaliknya. Hal ini dianggap biasa, karena keduanya merupakan makna dari sebuah cerita. Moral merupakan salah satu wujud tema yang sebenarnya, walaupun tidak semua tema menyatakan ajaran moral. Secara umum dikatakan bahwa tema berkaitan dengan masalah-masalah kehidupan, dan itu adalah universal. Sebuah cerita dapat dipandang sebagai dunia yang sengaja dibangunn untuk membahas model kehidupan yang diidealkan, menawarkan tema-tema kemanusiaan, dan dan moral bisa dijadikan sebagai acun tingkah laku. Tema dan moral mesti dikaitkan dengan masalah kebenaran dan pandangan tentang baik dan buruk.

BAB VI
HUBUNGAN TEMA DENGAN UNSUR YANG LAIN

Tema hanyalah merupakan salah satu dari sejumlah pembangun cerita yang lain, yang secara bersama-sama membentuk keseluruhan. Bahkan, eksistensi dari sebuah tema sangat bergantung pada unsur-unsur tersebut. Dengan demikian, sebuah tema akan dikatakan menjadi makna cerita bila ada keterkaitan dengan unsur-unsur tersebut.
1.         Tema dengan tokoh
Tokoh-tokoh cerita, apalagi tokoh utama, sangat berperan karena mereka adalah pembawa dan pelaku cerita, pembuat, pelaku, dan penderita peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Intinya, tokoh sebenarnya “ditugasi” untuk menyampaikan tema melalui perannya masing-masing dalam drama. Tentu saja penyampaian tema tersebut seharusnya tidak secara langsung, tetapi hanya melalui tingkahlaku, pikiran dan perasaan, dan berbagai peristiwa yang dialami tokoh itu.
2.         Tema dengan plot
Plot berkaitan erat dengan tokoh cerita. Plot pada hakikatnya adalah apa yang dilakukan oleh tokoh dan peristiwa apa yang terjadi dan dialami tokoh (Kenny, 1966). Plot merupakan penyajian secara linear tentang semua hal yang berkaitan dengan tokoh, maka pemahaman terhadap suatu drama sangat ditentukan oleh plot. Plot mempunyai kaitan dengan tokoh, dan yang dipermasalahkan tidak hanya apa yang dilakukan dan dialami oleh tokoh, melainkan juga apa jenis aktivitas yang mampu menciptakan konflik.
3.         Tema dengan latar
Latar merupakan tempat, saat, dan keadaan sosial yang menjadi wadah tempat tokoh melakukan dan dikenai suatu kejadian. Latar membatasi tokoh untuk mengikuti konflik yang telah ditentukan. Latar akan mempengaruhi tingkah laku dan cara berpikir tokoh, dan karena itulah latar akan mempengaruhi pemlihan tema. Atau sebaliknya, tema yang sudah dipilih akan menuntut pemilihan latar yang sesuai dan mampu mendukung. Latar juga sebisa mungkin sesuai dengan tema sehingga cerita dalam drama dapat dicerna dengan baik oleh penonton. Pemilihan latar yang kurang sesuai dengan unsur yang lain, khususnya unsur tokoh dan tema, dapat menjadikan cerita kurang meyakinkan.

BAB VIII
KESIMPULAN

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan pengertian dari tema adalah pikiran pokok, gagasan dasar , atau makna cerita yang terkandung secara implisit terdapat pada suatu karya fiksi atau drama yang memiliki hubungan dengan unsur-unsur cerita yang lainnya. Dan secara garis besar, tema dapat digolongkan menjadi tiga sudut pandang, yaitu penggolongan dikotomis yang bersifat tradisional dan non tradisional, penggolongan dari tingkat pengalaman jiwa menurut Shipley, dan penggolongan dari tingkat keutamaannya.
Penafsiran tema sebuah drama bukanlah hal yang mudah. Pada umumnya pernyataan tentang tema tersebut tidak secara eksplisit. Menurut Sayuti (2000), tema secara sederhana dapat ditafsirkan dengan cara-cara berikut :
1.      Penafsiran hendaknya mengedepankan detil cerita
2.      Penafsiran tema hendaknya tidak bertentangan dengan tiap detil cerita.
3.      Penafsiran tema hendaknya tidak mendasarkan diri pada buti-bukti yang tidak dinyatakan baik secara langsung maupun tidak langsung.
4.      Penafsiran tema haruslah mendasar pada bukti yang secara langsung atau diisyaratkan dalam cerita.
Aspek tema dan moral dalam cerita ada kalanya tumpang tindih, dalam arti pernyataan tema dalam cerita yang disuguhkan juga merupakan pesan moral, begitu juga sebaliknya. Hal ini dianggap biasa, karena keduanya merupakan makna dari sebuah cerita. Tema hanyalah merupakan salah satu dari sejumlah pembangun cerita yang lain, yang secara bersama-sama membentuk keseluruhan. Bahkan, eksistensi dari sebuah tema sangat bergantung pada unsur-unsur tersebut.
Tokoh-tokoh cerita, apalagi tokoh utama, sangat berperan karena mereka adalah pembawa dan pelaku cerita, pembuat, pelaku, dan penderita peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Plot berkaitan erat dengan tokoh cerita. Plot pada hakikatnya adalah apa yang dilakukan oleh tokoh dan peristiwa apa yang terjadi dan dialami tokoh. Plot mempunyai kaitan dengan tokoh, dan yang dipermasalahkan tidak hanya apa yang dilakukan dan dialami oleh tokoh, melainkan juga apa jenis aktivitas yang mampu menciptakan konflik. Latar merupakan tempat, saat, dan keadaan sosial yang menjadi wadah tempat tokoh melakukan dan dikenai suatu kejadian. Latar membatasi tokoh untuk mengikuti konflik yang telah ditentukan. Latar akan mempengaruhi tingkah laku dan cara berpikir tokoh, dan karena itulah latar akan mempengaruhi pemilihan tema.


DAFTAR PUSTAKA
Hamzah, Adjib. 1985. Pengantar Bermain Drama. Bandung : CV Rosda
Wiyanto, Asul. 2002. Terampil Bermain Drama. Jakarta: Grasindo
Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka
Nurgiantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Nurgiantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press