Kamis, 25 Februari 2010

Makalah CTL

1.       Pendahuluan
A.     Latar Belakang Masalah
Contekstual teaching and learning (CTL) atau belajar dan mengajar berdasarkan pendekatan kontekstual adalah pembelajaran yang merujuk pada keseluruhan situasi, latar belakang, atau lingkungan yang berhubungan dengan diri pembelajar. Pendekatan kontekstual merupakan salah satu pendekatan yang pada saat ini masih banyak digunakan di dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini dipilih karena antara lain mengakomodasi aspek-aspek penting pengembangan diri pembelajar, seperti berpikir kritis dan kreatif, kemandirian, kerja sama, dan kesesuaian dengan konteks kehidupan pembelajar secara nyata.
CTL dikembangkan oleh The Washington State Concortium for Contextual Teaching and Learning, yang melibatkan 11 perguruan tinggi, 20 sekolah dan lembaga-lembaga  yang bergerak dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Salah satu kegiatannya adalah melatih dan memberi kesempatan kepada guru-guru dari enam propinsi di Indonesia untuk belajar pendekatan kontekstual di Amerika Serikat, melalui Direktorat SLTP Depdiknas.
Yang ingin dibangun dalam CTL adalah perkembangan pikiran pembelajar sesuai dengan perkembangannya (atau mempercepat perkembangan long term memory). Pembelajar harus dihadapkan dengan realita yang ada di sekitarnya untuk memahami konsep-konsep teoretis dan akademis. Agar berbagai daya yang dimiliki oleh pembelajar dapat dikembangkan secara optimal, pembelajaran dengan pendekatan CTL harus mampu memanfaatkan berbagai metode yang variatif, media yang sealamiah mungkin, pengembangan berbasis masalah, interaksi yang bersifat personal, dan evaluasi yang mencerminkan autensitas. Semia ini dimaksudkan agar pembelajaran melalui pendekatan CTL mampu menghasilkan pemikir-pemikir yang kritis dan kreatif.
Pembelajaran kontekstual menjadi fokus perhatian para ahli pengajaran sejak pembelajaran berubah menjadi paradigma dari berfokus pada guru menjadi berfokus pada siswa. Paradigma pembelajaran berfokus pada siswa memberikan ruang gerak pada siswa untuk belajar sesuai dengan perkembangan kognisinya dan bekajar sesuai dengan konteks tempat belajarnya. Pengertian konteks di sini adalah keseluruhan situasi siswa, minat siswa, latar belakang, keluarga, tempat tinggal, lingkungan sekolah, masyarakat, dan sebagainya.

B.     Rumusan Permasalahan
-  Mengapa menggunakan CTL?
-  Mengapa CTL berhasil?

C.     Tujuan penulisan
Mengerti dan memahami mengapa CTL sangat penting dalam pendidikan


2.       5 Bentuk Belajar dalam CTL
Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu mengaitkan (relating), mengalami (experiencing), menerapkan (applying), bekerjasama (cooperating) dan mentransfer (transferring).
1.      Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
2.      Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
3.      Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan.
4.      Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.
5.      Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengelaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan hapalan.


3.       CTL Membangun Pemikir Kritis dan Kreatif
Pembelajaran berdasarkan pendekatan kontekstual ingin membangun pemikir-pemikir kritis. Pemikir kritis adalah individu atau pemikir yang berpikir secara sistematis untuk menemukan kebenaran dangan mengevaluasi bukti-bukti,asumsi,dan logika yang mendasari pernyataan orang lain tersebut. Seorang pemikir kritis memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Mampu mengidentifikasi masalah
Tidak semua persoalan di sekeliling kita dapat diangkat menjadi masalah. Hanya fenomena yang memperlihatkan kesenjangan tertentulah yang dapat diangkat menjadi masalah. Untuk dapat mengidentifikasi masalah tersebut dibutuhkan seorang pemikir kritis. Pemikir kritis akan mampu melihat fenomena yang memiliki kemungkinan untuk menjadi masalah dan fenomena yang benar-benar menjadi gejala.
b.Mampu menentukan sudut pandang
Setiap persoalan pasti dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Dari setiap sudut pandang, hanya satu sudut pandang yang memberikan kemungkinan terbaik untuk dipakai sebagai titik awal penyelesaian pada saat itu yang sesuai dengan konteks dan situasinya.
c. Mampu mengajukan alasan
Setiap alternatif pemecahan masalah pasti memiliki argumentasi mengapa alternatif pemecahan masalah tersebut dipilih. Alasan-alasan itu hanya bisa dilihat oleh seorang pemikir kritis karena kemampuannya melihat banyak pilihan . Kemampuan melihat satu alternatif pemecakan masalah disertai dengan berbagai resiko jika alternatif lain yang harus dipilih.
d.                 Mampu mengemukakan asumsi-asumsi
Pemecahan suatu masalah harus berawal dari asumsi seseorang tentang masalah tersebut yang mungkin dapat dikembangkan sebagai dasar teori untuk memecahkan masalah.
e. Mampu menggunakan bahasa dengan jelas
Seorang pemikir kritis mampu menggunakan bahasa secara efektif. Dengan kata lain seorang pemikir kritis mampu menyampaikan pendapat sesuai dengan isi pikirannya dan sanggup menarik perhatian penyimak terhadap pokok masalah yang dibicarakan.
f. Mampu mengemukakan bukti-bukti sebagai pendukung yang meyakinkan
Setiap pemikiran pasti memerlikan bukti pendukung. Bukti-bukti pendukung ini berguna untuk meyakinkan orang lain bahwa pemikiran yang dikemukakan memang benar.
g.Mampu menarik kesimpulan
Kesimpulan adalah baguan akgir dari pemikiran dan dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa proses tersebut telah sampai pada titik tertentu dalam membahas suatu pokok masalah. Hal ini berguna untuk menginformasikan kepada orang lain jika ada yang tertarik untuk menindaklanjuti pemikirannya.
h.Mampu melihat implikasi dari kesimpulan yang sudah diambil
Seorang pemikir kritis tidak hanya melihat gasil pemikirannya dengan sesuatu yang secara langsung berkaitan dengan masalah yang dibicarakan tetapi melihat jauh ke depan terhadap berbagai kemungkinan yang dapat terjadi pada masalah lain.
CTL juga membangun pemikir kreatif. Ciri penanda pemikir kreatif yaitu harus mampu melakukan aktivitas mental, seperti mengajukan pertanyaan, mempertimbangkan informasi baru dan ide yang tidak lazim dengan pikiran terbuka, membangun keterkaitan, menerapkan imajinasi pada setiap situasi untuk menghasilkan hal yang baru, dan mau mendengarkan intuisinya.


4.       Membangun Siswa dalam Konteks Kehidupannya
Dalam bukunya Johnson mengatakan bahwa “CTL adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. CTL adalah suatu sistem pengajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa”(Johnson, 2009:57).
CTL ingin membangun situasi belajar yang muatan akademisnya memiliki kaitan dengan konteks kehidupan siswa sehari-hari. Konteks kehidupan sehari-hari sangat penting dalam merangsang sel-sel syaraf otak untuk membentuk pemahaman akademis yang lebih mendalam mengenai suatu konsep berpikir tertentu. CTL mampu memberikan solusi atas kegagalan pembelajaran secara tradisional yang penuh dengan hafalan. Jika pembelajaran secara tradisional membuat anak gagal mencapai keberhasilan dengan standar tinggi, CTL justru mampu membawa keberhasilan bagi mayoritas siswa yang gagal dalam pembelajaran tradisional.
Ada beberapa hal yang perlu dikembangkan dalam CTL supaya tercapai keberhasilan dengan standar tinggi, yaitu :
§ Prinsip saling ketergantungan
Pembelajaran di sekolah juga berlaku hukum saling ketergantungan. Saling ketergantungan berarti setiap persoalan selalu kait mengait dan harus diselesaikan secara simultan oleh banyak orang dengan berbagai disiplin ilmu. Dalam arti bahwa seorang siswa menjadi semakin maju dalam belajar apabila ada andil dari siswa lain. Seriap siswa sebenarnya bergantian saling mengisi siswa lain sehingga secara alamiah mereka akan tumbuh dan berkembang bersama-sama.
§ Prinsip Pembelajaran Mandiri dan Kerjasama
Sistem CTL berhasil karena sistem ini meminta peserta didik untuk bertindak dengan cara yang alami bagi manusia (Johnson, 2009:op cit, 61). Sifat alami anak dalam perkembangannya selalu menuju ke kemandirian dalam bertindak dan mengambil keputusan. Sifat alami lain pada seorang anak adalah selalu mau bekerjasama. Pandangan tradisional justru meniadakan sifat alami kemandirian dan kerjasama ini dengan cara yang keliru. Membawa anak ke situasi kompetisi untuk saling mengalahkan satu sama lain, bukan memupuk kemandirian dan kerjasama tetapi menumbuhkan sifat egois. CTL berpandangan bahwa sifat mandiri dan kerjasama yang alami akan membawa anak didik pada tumbuhnya rasa percaya diri dan kesadaran bahwa keberhasilan dapat diraih dengan kekuatan bersama. Sifat kemandirian adalah potensi besar untuk menggali minat-minat baru, semangat baru, dan motivasi baru untuk menyesuaikan dengan lingkungan dimana mereka hidup.
§ Prinsip Kebermaknaan dalam Belajar
Memiliki sebuah arti atau kebermaknaan dalam belajar menjadi salah satu faktor yang kuat dan juga menentukan dalam keberhasilan pendidikan.  Seorang anak akan bersungguh-sungguh mengikuti proses pembelajaran ketika dia memahami tujuan, manfaat serta keuntungan dari proses pembelajaran tersebut bagi dirinya.  Kebermaknaan yang ia miliki merupakan sumber motivasi kesungguhan belajarnya.  Sedangkan siswa yang tidak punya arti proses belajar bagi dirinya sendiri, akan tercermin dari perilaku. Misalnya kurang respon terhadap materi di kelas, prestasi yang biasa saja, bahkan melakukan pelanggaran. Pendekatan CTL menanamkan pemahaman kepada siswa bahwa belajar bukan sekedar memahami informasi, tetapi pemberian makna terhadap informasi yang dipelajari dengan kebutuhan hidup dalam konteks yang sesungguhnya. Siswa perli ditunjukkan bahwa mempelajari sesuatu perlu dikaitkan derngan pengalaman hidup siswa.
§ Prinsip berpikir kritis dan kreatif
Berpikir kritis yaitu berpikir secara sistematis untuk menemukan kebenaran dengan mengevaluasi bukti-bukti, asumsi, logika orang lain yang mendasari pernyataannya. Berpikir kritis harus selalu siap dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Berpikir kritis memberikan peluang pada munculnya daya asosiasi dan imajinasi terhadap sesuatu yang mungkin akan terjadi. Sama halnya dengan berpikir kreatif. Berpikir kreatif adalah berpikir untuk mencari kesempatan mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Berpikit kreatif diawali dengan mengajukan pertanyaan terhadap sesuatu yang sudah mapan, mau memberi peluang, mempertimbangkan ide baru yang tidak lazim, membangun keterkaitan yang berbeda, mencari hubungan sesuatu secara bebas, menerapkan imajinasi, dan mendengarkan intuisi.
§ Prinsip penilaian secara autentik
Penilaian autentik memberikan tantangan kepada siswa untuk menerapkan informasi dan ketrampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan yang bermakna. Penilaian autentik memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperlihatkan kemampuan terbaik mereka dan memperlihatkan apa saja yang sudah mereka pelajari.

5.       Kesimpulan
CTL digunakan karena memberikan suasana berbeda bagi siswa, dimana siswa bisa belajar sesuai dengan kehidupannya sehari-hari. Dengan konteks belajar yang sesuai dengan dunia siswa, penyerapan materi akan lebih efektif dan lebih mudah, sehingga didapatkan hasil belajar dengan standar tinggi.
CTL berhasil karena mendekatkan siswa dengan lingkungannya sendiri dalam setiap kegiatan belajarnya. CTL merupakan sebuah model pembelajaran yang menekankan pada aktifitas belajar siswa secara penuh, baik secara fisik maupun mental. CTL memandang bahwa belajar bukan proses menghapal, tetapi melalui pengalaman pembelajaran yang dilalui peserta didik, mereka dapat memahami hakikat dan makna materi pembelajaran yang dialaminya secara langsung.

6.       Daftar Referensi
Johnson, Elaine B.2008. Contextual Teaching and Learning – terjemahan. Bandung: Mizan
Pranowo. 2009. Konsep Dasar CTL dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia – Seminar Nasional. Yogyakarta