PENDAHULUAN
Di sekolah, kita sering
mendengar atau membaca kata konseling. Biasanya kita mendengar kata tersebut
ebagai ekor dari bimbingan. Sebenarnya konseling hanya merupakan salah satu
teknik membimbing atau teknik menolong. Kenyataan bahwa konseling selalu
disebutkan secara eksplisit menunjukkan bahwa teknik konseling ini dipandang
penting dalam bimbingan.
Secara luas, konseling
adalah pertolongan atau bimbingan melewati wawancara atau wawancara yang
bertujuan memberi pertolongan/bimbingan.
Wujud dan isi dari
pertolongan bervariasi tergantung dari kebutuhan atau masalah yang dihadapi
oleh siswa. Di antaranya pemecahan masalah, pengambilan keputusan penting,
mengatasi konflik atau menghadapi tantangan hidup, mengubah tingkah laku, dan
lain-lain.
Bimbingan konseling
adalah salah satu unsur penting yang ada di sekolah. Bimbingan dan konseling
(BK) merupakan salah satu bentuk dari komitmen sekolah untuk membantu siswa
tidak dalam hal akademik saja, tetapi juga secara afektif maupun psikologis.
Siswa yang tentu saja memiliki latar belakang berbeda satu sama lain memiliki
permasalahan yang berbeda-beda pula. Permasalahan tersebut banyak juga yang
menjadi penghambat seorang siswa dalam belajar di sekolah. Permasalahannya
dapat berupa permasalahan diri sendiri, seperti kurang percaya diri, tidak
menyukai pelajaran tertentu, membenci guru tertentu , dan sebagainya.
Permasalahan juga dapat berasal dari lingkungan sekitar, seperti keadaan
orangtua yang bercerai, kekerasan dalam rumah tangga, pengaruh negatif dari
lingkungan tempat tinggal, dan lain-lain.
Perkembangan masyarakat
dan pendidikan dewasa ini membawa kenyataan bahwa program bimbingan yang
terorganisir di sekolah dasar dan sekolah menengah merupakan tindakan yang
bersifat kontinyu. Bimbingan adalah satu bagian integral dalam keseluruhan
program pendidikan yang mempunyai fungsi positif dan mengedepankan proses,
bukan sekedar kekuatan korektif. Bimbingan diadakan sejak kontak pertama sang
anak dengan sekolah, sampai anak dewasa dan mendapatkan tempatnya di
masyarakat, atau melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Pendekatan
bimbingan dapat berubah-ubah sesuai dengan perubahan kebutuhan anak dalam
perkembangannya (Gunawan, 1992:178).
TINDAKAN
PREVENTIF DI SEKOLAH DASAR
Ada beberapa catatan
penting (Gunawan, 1992:179) mengapa bimbingan konseling di sekolah dasar
merupakan program yang sangat penting dalam sebuah instansi pendidikan :
a) Kepribadian
anak masih sangat luwes dan belum menemukan banyak persoalan hidup yang dapat
mengakar secara mendalam. Selain itu, kepribadian anak mudah terbentuk dan
masih akan mengalami banyak perubahan dalam proses perkembangannya.
b) Orangtua
murid masih sering bekerjasama dan berhubungan dengan guru kelas. Orang tua
masih aktif dalam mengikuti perkembangan pendidikan sang anak di sekolah dasar.
c) Anak
masih punya waktu terbuka untuk masa depannya, sehingga di sekolah dasar anak
dapat belajar mengenali diri sendiri dan menemukan cara-cara pendekatan untuk
menghadapi suatu persoalan dan cara memecahkannya di kemudian hari.
Ada sebuah kasus (Psikologi Plus, Januari 2009) dalam
artikel berjudul Anak Korban Kekerasan
Dalam Keluarga. Amy dan Jessica adalah dua kakak beradik yang lahir dan
besar di Amerika mengaku menjadi korban ambisi ibu kandungnya sendiri. Mereka
diharuskan mengikuti berbagai les di luar pendidikan formal agar berhasil
mendulang prestasi. Namu yang terjadi adalah mereka menjadi ketakutan bertemu
ibunya dan menyebut ibu mereka sakit jiwa.
Pada masa sekolah
dasar, kepribadian anak dapat terbentuk sesuai dengan perubahan-perubahan yang
terjadi dalam perkembangannya. Dan hal itu sanget luwes. Kasus di atas
merupakan tindakan salah yang dilakukan orangtua kepada anaknya. Anak
seharusnya tidak dipaksa untuk mengikuti suatu kegiatan di mana anak tersebut
belum tentu menyukainya. Dampak yang ditimbulkan dapat berupa depresi sampai
trauma. Disebutkan bahwa Amy dan Jessica ketakutan ketika bertemu ibunya. Hal
ini juga merupakan sinyalemen bahwa Amy dan Jessica mengalami kekerasan dalam
keluarga secara psikis. Mereka dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak
mereka sukai dan mereka kemudian mengalami trauma.
Anak-anak yang
memperoleh perlakuan kekerasan dari orangtua maupun kalangan dewasa mempunyai
kecenderungan untuk bersifat agresif saat mereka dewasa nanti. Anak tersebut akan
berlaku kejam terhadap orang lain seperti kepada anak-anaknya sendiri, atau
bahkan kepada orangtuanya sendiri. Ketika seorang anak dididik dengan
kekerasan, si anak akan terbiasa mengekspresikan dirinya dengan kekerasan pula.
Bila tindakan kekerasan terhadap anak-anak dibiarkan terus dan tidak diberi
intervensi psikologis, suatu saat akan muncul budaya kekerasan di tengah
masyarakat yang ditimbulkan oleh anak-anak korban kekerasan.
Permasalahan anak
seperti ini dapat mengganggu kegiatan belajarnya di sekolah. Jika bimbingan
hanya memberikan pelayanan kepada anak yang mengalami problem pribadi yang
serius saja, sekolah dasar tidak memerlukan program bimbingan yang
terorganisir. Pandangan tentang BK yang tidak menekankan tindakan korektif
belaka, melainkan menekankan program preventif yaitu menyediakan suasana atau
situasi perkembangan yang baik, sehingga setiap anak dapat terdorong belajar
dan mengembangkan pribadinya sebaik mungkin serta terhindar dari
praktek-praktek yang merusak perkembangan anak. Sekolah menjadi sebuah tempat
anak untuk dapat berkembang sesuai dengan perkembangan yang seharusnya. Sekolah
juga menjadi patokan di mana seorang anak pada usia tertentu harus bisa
menguasai kompetensi tertentu, bagaimana seharusnya seorang anak bersikap sesuai
dengan usianya. Permasalahan pribadi anak, tentunya akan mempengaruhi
kehidupannya di sekolah. Jika permasalahan pribadi anak memberikan pengaruh
buruk, maka sekolah dapat menjadi suatu tameng untuk menghindari dampak-dampak
negatif bagi sang anak.
Dalam sebuah artikel
berjudul Psikososial : Mendidik Anak
Secara Kontekstual (Psikologi Plus,
Januari 2009) dituliskan bahwa anak diberi kesempatan untuk memilih dan
menjalani hidupnya dan orangtua hanya bisa mengarahkan. Seringkali kita
mendengar sebutan orangtua kolot yang mengatur segalanya berkaitan dengan
anaknya sehingga mereka memiliki tekanan.
Dalam artikel tersebut
juga dicontohkan sebuah film sebagai kasus, yang berjudul Ekskul (2006). Film ini menceritakan tentang seorang anak bernama
Joshua yang selalu mendapat tekanan fisik dan emosi baik di lingkungan keluarga
maupun pergaulannya di sekolah. Akibatnya dia menjadi depresi dan menyandera
teman-temannya karena merasa dirinya hanya sebagai bahan lelucon saja. Ending
film sangat tragis dimana Joshua bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri.
Film ini ingin menunjukkan potret pendidikan atau pendampingan keluarga,
sekolah, bahkan masyarakat.
Seringkali maksud
orangtua ketika mencoba mengontrol segala perilaku anak untuk menghindarkan
dari hal-hal negatif. Tetapi, kontrol itu seringkali terlalu berlebihan
sehingga anak justru menjadi tidak mandiri bahkan menjadi pemalu karena saat
melakukan sesuatu selalu saja diatur. Usia sekolah dasar adalah saat anak dan semua perilakunya didominasi oleh perkembangan
intelektual dan performance atas daya
upayanya. Anak sangat mengharapkan pengakuan dari teman, guru, orangtua, atau
siapapun. Apresiasi sangat dibutuhkan oleh mereka. Mendukung mereka melakukan
sesuatu, membantu mereka menyelesaikan, membiarkan mereka menyelesaikan dengan
cara mereka sendiri, dan membesarkan hati mereka atas segala upayanya merupakan
dukungan yang kuat untuk pembentukan karakter mereka.
Untuk mewujudkan peran
BK dalam perkembangan anak di sekolah dasar, Havighurst (1957) menyebutkan ada
beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru BK maupun guru kelas :
a) Mempelajari
ketrampilan fisik anak. ketrampilan fisik berguna bagi kehidupan sang anak,
terutama untuk berinteraksi dengan anak-anak lain saat bermain bersama. Peranan
dan penghargaan teman sebayanya sangat ditentukan oleh perkembangan ketrampilan
ini.
b) Membangun
sikap yang sehat terhadap diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh. Anak
dibiasakan untuk menghargai, memelihara, menjaga kebersihan dan keamanan
tubuhnya, serta memiliki sikap yang sehat terhadap tubuhnya sendiri.
c) Belajar
bergaul dengan teman sebayanya. Anak belajar menerima dan memberi di antara
teman sebayanya. Anak mulai keluar dari lingkungan keluarganya, menempatkan
dirinya di antara teman sebayanya, dan mulai memperoleh kepuasan dalam
kehidupan sosial teman sebaya.
d) Mencapai
tingkat kebebasan pribadi. Anak dibimbing untuk mengembangkan diri menjadi
pribadi yang mandiri, mampu membuat rencana, dan bertindak dari dirinya yang
bebas dari orangtua atau orang dewasa lainnya.
e) Mengembangkan
sikap terhadap kelompok sosial dan lembaga dalam masyarakat. Sikap atau
disposisi perasaan dipelajari anak melalui 3 cara:
1) Meniru
orang yang dilihat oleh anak sebagai orang yang berwibawa
2) Pengumpulan
dan kombinasi pengalaman-pengalaman yang menyenangkan atau yang tidak
menyenangkan dalam situasi hidupnya
3) Pengalaman
emosional yang mendalam, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan
dalam situasi hidup mereka.
Pada poin terakhir
tersebut, pengalaman dari situasi hidup dan pengalaman emosional yang mendalam
dari seorang anak memberikan pengaruh bagi kehidupan sosialnya kelak. Oleh
karena itu bimbingan sangat diperlukan bagi anak dan hal tersebut dimulai oleh
institusi pendidikan pada tingkat sekolah dasar.
KESIMPULAN
Bimbingan konseling
adalah salah satu unsur penting yang ada di sekolah. Bimbingan dan konseling
(BK) merupakan salah satu bentuk dari komitmen sekolah untuk membantu siswa
tidak dalam hal akademik saja, tetapi juga secara afektif maupun psikologis.
Perkembangan masyarakat dan pendidikan dewasa ini membawa kenyataan bahwa
program bimbingan yang terorganisir di sekolah dasar dan sekolah menengah
merupakan tindakan yang bersifat kontinyu. Bimbingan adalah satu bagian
integral dalam keseluruhan program pendidikan yang mempunyai fungsi positif dan
mengedepankan proses, bukan sekedar kekuatan korektif. Bimbingan diadakan sejak
kontak pertama sang anak dengan sekolah, sampai anak dewasa dan mendapatkan
tempatnya di masyarakat, atau melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
Pada masa sekolah
dasar, kepribadian anak dapat terbentuk sesuai dengan perubahan-perubahan yang
terjadi dalam perkembangannya. Dan hal itu sanget luwes. Anak-anak yang
memperoleh perlakuan kekerasan dari orangtua maupun kalangan dewasa mempunyai
kecenderungan untuk bersifat agresif saat mereka dewasa nanti. Anak tersebut
akan berlaku kejam terhadap orang lain seperti kepada anak-anaknya sendiri,
atau bahkan kepada orangtuanya sendiri. Ketika seorang anak dididik dengan
kekerasan, si anak akan terbiasa mengekspresikan dirinya dengan kekerasan pula.
Bila tindakan kekerasan terhadap anak-anak dibiarkan terus dan tidak diberi
intervensi psikologis, suatu saat akan muncul budaya kekerasan di tengah
masyarakat yang ditimbulkan oleh anak-anak korban kekerasan.
Seringkali maksud
orangtua ketika mencoba mengontrol segala perilaku anak untuk menghindarkan
dari hal-hal negatif. Tetapi, kontrol itu seringkali terlalu berlebihan
sehingga anak justru menjadi tidak mandiri bahkan menjadi pemalu karena saat
melakukan sesuatu selalu saja diatur. Usia sekolah dasar adalah saat anak dan semua perilakunya didominasi oleh
perkembangan intelektual dan performance
atas daya upayanya. Anak sangat mengharapkan pengakuan dari teman, guru,
orangtua, atau siapapun. Apresiasi sangat dibutuhkan oleh mereka.
Sekolah menjadi
jembatan bagi anak yang mendapat sebuah nilai tertentu yang dirasa salah jika
diterapkan secara umum. Sekolah memberikan bantuan bagi siswa dalam memperbaiki
sikap mereka, dan secara khusus dengan bimbingan konseling, dapat menjamin
proses belajar mereka di sekolah dengan nyaman.
DAFTAR
PUSTAKA
Gunawan, Yusuf. 1992. Pengantar Bimbingan dan Konseling.
Gramedia: Jakarta
Loekmon, Lobby JT.
1991. Tantangan Konseling. Satya
Wacana: Semarang
Hapsari, Hendrati.
2009. Anak Korban Kekerasan Dalam
Keluarga. Majalah Psikologi Plus,
Januari 2009 halaman 10-13.
Prasetyo, Aris Wahyu.
2009. Psikososial: Mendidik Anak Secara
Kontekstual. Majalah Psikologi Plus,
Januari 2009 halaman 58-64.
Artikel terlampir.